/ Sungai Kais

Bermula dari Tepi Sungai

Sungai Kais atau Kaibus di Teminabuan, Sorong Selatan, Papua Barat

POKJA PAPUA – Sorong Selatan adalah ‘kabupaten 1001 sungai’. Ada banyak sekali sungai dengan tawaran keindahan berbeda-beda. Ada Sungai Sembra, yang terkenal dingin dan sejuk dengan air yang biru di Kampung Srer, Distrik Seremuk. Sungai Kamundan yang berhulu di Manokwari, mengalir melalui Bintuni dan bermuara di Sorong Selatan.

Sungai Taputar yang alirannya buntu, menghilang di tengah jalan karena masuk ke dalam perut bumi. Termasuk sungai paling berbahaya. Jika masuk ke buntu, tak akan pernah bisa kembali. Ada Sungai Panta Kapal, yang menawarkan panorama alam yang rindang. Sungai ini jika dilihat dari ketinggian mirip seperti bagian belakang kapal.

Ada Sungau Kohoin, yang menjadi kolam renang alami di Sorong Selatan. Selain itu juga ada Sungai Wermit, Sungai Moswaren, Sungai Boldon Sesor dan tentu saja Sungai Kais atau Kaibus.

Sungai-sungai ini berperan besar dalam mengkoneksikan antara distrik, antara desa atau kampung di Sorong Selatan. Di kabupaten hasil pemekaran tahun 2003 ini, terdapat 13 distrik, yaitu distrik Kais, Fokour, Inanwatan, Kokoda, Kokoda Utara, Konda, Matemani, Moswaren, Saifi, Sawait, Seremuk, Wayer, dan Teminabuan.

Sungai Kais berada di garis lintang 2° 1' 15" S dan garis bujur 132° 3' 5" E. Sungai Kais adalah salah satu sungai yang besar dengan aliran yang cukup panjang. Ia sangat berperan besar dalam perkembangan roda perekonomian di Sorong Selatan. Selain karena daerah aliran sungai yang cukup lebar, juga karena tidak memiliki air terjun. Hal ini memudahkan untuk dilalui sampan, tidak saja untuk perpindahan manusia, tetapi juga barang, hasil bumi dan ternak.

Jika kebanyakan sungai di Sorong Selatan menjadi tempat rekreasi yang favorite, Sungai Kais agak sedikit berbeda. Di sepanjang alirannya berderet pohon-pohon hijau dan besar. Tetapi aliran airnya kalah jernih dibandingkan dengan sungai-sungai lain. Bisa saja dipakai untuk berenang dan bersantai, tetapi mesti hati-hati karena menjadi salah satu tempat tinggal buaya.

Akses Utama
Tetapi sungai ini menjalankan peran lain yang sangat vital. Sungai Kais adalah perekat Sorong Selatan. Ia adalah jalur transportasi utama. Suku-suku asli di Sorong Selatan, bersentuhan dengan orang dari luar tak lepas dari keberadaan Sungai Kais ini. Sungai-Kais4 Sungai Kais adalah akses utama masuk ke Sorong Selatan di masa lalu

Orang Ternate-Tidore, Maluku Utara (sekarang) adalah pihak luar pertama yang menyusuri sungai ini. Di tepi Sungai Kais ini, pedagang-pedagang dari Ternate-Tidore, zaman dahulu melakukan perdagangan barter dengan suku asli Sorong Selatan. Titik perdagangan utama, tepatnya di Teminabuan, distrik yang kini menjadi Ibukota Kabupaten Sorong Selatan.

Pedagang dari Ternate-Tidore datang membawa kain, porselen dan barang makanan. Kemampuan mereka berdagang karena memang sudah lebih dahulu maju dan berkembang serta didukung oleh Kerajaan Ternate. Di Teminabuan, mereka menukarkan barang dagangannya dengan hasil hutan, sagu, bulu burung dan kerajinan suku asli. Bahkan, tak jarang kain dan porselen itu ditukarkan dengan budak yang ada di muara aliran Sungai Kais dan Waromge.

Jika penduduk asli Sorong Selatan bisa menukarkan hasil buminya dengan kain dan porselen, status sosialnya dianggap meningkat. Menjadi orang terpandang di kampung atau sukunya. Kain dan porselen yang diperoleh dengan barter itu dianggap sebagai lambang kekayaan, tanda status sosial yang tinggi. Tidak sembarangan bisa dipakai.

Selain sebagai tempat dagang, tepi Sungai Kais, di Teminabuan adalah juga tempat berbagai informasi, tempat belajar bagi suku asli Sorong Selatan. Pedagang dari Ternate-Tidore tak jarang bercerita tentang perkembangan kampung halamannya kepada suku asli Papua Barat. Dari cerita tentang Kerajaan Ternate-Tidore hingga tentang penjajahan Portugis dan Belanda.

Portugis dan Belanda memang sudah lebih dahulu masuk dan menjajah wilayah Maluku. Kedua negara itu mengekspolitasi hasil rempah yang ada Maluku. Menjadikan warga Ternate-Tidore sebagai budaknya. Disuruh kerja paksa dan sebagainya. Perlawanan tiada henti hingga menimbulkan korban jiwa.

Gereja Konda
Gereja-Kristen-Konda-1 Gereja Tua di Kampung Konda, Distrik Konda ini diklaim didirikan misionaris Belanda tahun 1862 (Foto:www.dprdsorongselatan.net)

Lambat laun, cerita tentang Belanda, tak lagi hanya didengar oleh penduduk asli Sorong Selatan. Belanda kini ada dan nyata di hadapan mereka. Mereka juga datang menyusuri Sungai Kais. Masuk ke wilayah Sorong Selatan. Belum ada penanggalan yang jelas, kapan persisnya Belanda memulai menyusuri dan masuk wilayah ini. Seperti halnya kapan pedagang dari Ternate-Tidore pertama kali tiba di Teminabuan.

Diperkirakan Belanda tiba pertama kali di situ tahun 1800-an. Perkiraan itu merujuk pada keberadaan Gereja Tua di Kampung Konda, Distrik Konda. Gereja tua itu berada sekitar 15 km dari Teminabuan.

Awalnya, Gereja itu berdiri sendiri. Tidak ada penghuni lain di situ. Namun, dalam perkembangan hingga saat ini, Gereja Kristen itu berdiri di tengah perkampungan penduduk. Didirikan misionaris Belanda pada tahun 1862 dan hingga kini masih bisa digunakan oleh umat Kristen setempat.

Dari Teminabuan, Gereja Tua Konda itu bisa ditempuh dengan speedboat atau longboat. Bangunan Gereja Tua di Konda itu cukup sederhana. Atapnya dari daun pohon sagu, sementara tiangnya diambil dari kayu-kayu terbaik di sekitar Sungai Kais. Arsiteknya mengikuti model rumah penduduk asli di situ. Gereja ini masih terjaga dengan baik oleh penggunanya. Di sampingnya terdapat makam misionaris yang mendirikannya.

Misionaris Belanda itu juga membangun dermaga kecil di Konda sehingga memungkinkan untuk bersadar perahu. Dermaga itu masih bisa ditemukan dan berfungsi dengan baik hingga saat ini. Nah, dari dermaga itu, lokasi Gereja Tua di Konda tinggal jalan kaki berjarak sekitar 200 meter. Sekarang akses transportasi darat sudah bisa dilalui dengan baik.

Namun, catatan resmi saat ini adalah Injil masuk di Papua pertama kali tahun 1916.

Melawan Belanda
Hal yang tercatat jelas adalah tahun 1917 pemerintah Hindia Belanda masuk ke Kota Teminabuan. Mereka menjajah warga Sorong Selatan, sehingga muncul perlawanan dari penduduk asli. Belanda hanya bertahan selama tiga tahun. Berakhir tahun 1920. Cacat cela Belanda, datang menjajah, menjadi pembenar cerita pedagang Ternate-Tidore di tepi Sungai Kais bagi penduduk setempat di masa lampau.

Namun, Belanda tidak kehilangan akal. Keberadaan Gereja Tua di Konda menjadi alasan untuk kembali menyusuri Sungai Kais. Beberapa tahun kemudian Belanda datang lagi. Kali ini untuk pewarataan Injil. Membonceng pendeta dari Maluku. Pada tanggal 27 Januari 1927, dua orang penginjil dari Maluku yaitu Matatula dan Yotleli, didampingi oleh Pendeta J. Wetstein tiba di Teminabuan. Mereka datang untuk menyebarkan agama Kristen. Gereja-Konda1 Tugu di depan Gereja ini menegaskan Injil masuk di Papua tahun 1916

Selain menyebarkan Injil, Belanda kali ini juga datang untuk membangun lembaga pendidikan setingkat SD. Sekolah itu kemudian berdiri tahun 1930 dengan model sekolah berasrama. Pendidikan di sekolah itu berjalan hingga datang masa pendudukan Jepang di Indonesia. Jepang sempat mengambil alih. Namun, ketika Jepang kalah dalam PD II melawan Tentara Sekutu tahun 1945, Belanda kemudian mengambilnya kembali. Pada tahun 1950, Belanda mendirikan Sekolah YVVS untuk laki-laki dan Sekolah MVVS pada tahun 1956 – 1957 untuk perempuan.
Sekolah-di-Kais Sekolah peninggalan Belanda di Kais, Sorong Selatan
Belanda juga memindahkan pusat pemerintahan untuk wilayah Kepala Burung Bagian Selatan dari Ayamaru ke Teminabuan tahun 1954. Bangunan sekolah-sekolah itu masih bisa ditemukan hingga saat ini dalam keadaan utuh. **