/ BUMN

Menteri Rini Pantau Pembangunan Ekonomi Papua

Menteri Badan Usaha Milik Negara, Rini M Soemarno mengagendakan pantauan langsung pembangunan ekonomi di Papua. Menteri Rini hadir di Papua Senin (20/11/2017) besok berkunjung ke Kabupaten Puncak Jaya, Jayawijaya dan Pegunungan Bintang.

"Rencana pada 20 November, Menteri BUMN akan berdialog dengan dua kelompok peserta pelatihan budi daya dan pasca panen kopi dari sentra Distrik Yagara dan Distrik Wolo. Menteri juga meninjau program penyetaraan harga Semen dan sekaligus berdialog dengan masyarakat," ujar Kepala Humas Pemkab Jayawijaya, Meitty W Nahuway.

Meitty tak memungkiri masih ada kemungkinan perubahan jadwal kunjuungan Menteri BUMN, karena masih akan ada rapat koordinasi hari ini. “Dijadwalkan, selain meninjau kebun kopi. Menteri rini juag menyerahkan alat pengupas dan pengering buah kopi Arabika untuk petani kopi di Jayawijaya,” kata Meitty menjelaskan.

Selain di Jayawijaya Menteri Rini dijadwalkan berkunjung ke Oksibil, Ibu Kota Kabupaten Pegunungan Bintang meninjau agen premium dan minyak solar (APMS) serta melakukan sidak lapangan BBM satu harga.

Rini juga direncanakan bersama masyarakat Kabupaten Puncak Jaya mendeklarasikan gerakan bangga menyeduh kopi Papua serta menyerahkan bantuan, meninjau penurunan harga tiga bahan pokok oleh PPI dan meninjau penyetaraan harga semen oleh Semen Indonesia.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) Papua memperkirakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua triwulan tiga 2017 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan BI Papua, Joko Supratikto, menilai kinerja perekonomian Provinsi Papua mencapai 4,91 persen dari tahun ke tahun, atau lebih tinggi dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya sebesar 3,36 persen tahun 2016.

"Angka perkiraan tersebut terutama didorong oleh kinerja pertambangan yang diperkirakan meningkat,” kata Joko Supratikto.

Dorongan sektor tambang itu membuat kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian tumbuh signifikan dari 0,36 persen pada triwulan 2017 menjadi 6,75 persen dalam hitungan per tahun. "Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya penjualan konsentrat tembaga hasil tambang," katanya. (*)