/ sosial

Biak, Karang Sejuta Kenangan

POKJA PAPUA - Kota Biak, ibukota Kabupaten Biak Numfor adalah salah satu kota yang menjadi medan tempur sengitnya Perang Dunia (PD) II. Di kota ini Jepang menggali Gua Binsari, sebuah lorong bawah tanah sebagai tempat persembunyian, menyimpan logistik dan juga menahan musuh.

PD II yang melibatkan Jepang dan Tentara Sekutu, 1943-1945, begitu mencekam di Pulau Biak, Papua ini. Konon, ribuan tentara Jepang tewas terjebak di dalam Gua Binsari yang memiliki panjang 180 meter dengan kedalaman sekitar 45 meter, setelah dikepung Tentara Sekutu yang dipimpin Jenderal McArthur.

McArthur secara masif dan sistematis mengebom Biak pada tanggal 7 Juni 1944. Menembus kokohnya Gua Binsari. Nyawa tentara Jepang habis. Di Gua Binsari, yang lalu dikenal sebagai Gua Jepang, hanya tertinggal tulang belulang, sisa mortir, meriam, peluru, senjata.
Gua-Binsari-1 Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa pertempuran sengit itu di sejumlah situs sejarah Kota Biak. Pemerintah Indonesia juga telah membuat Monumen PD II di Desa Paray, Kota Biak untuk mengenang perstiwa bersejarah itu sejak tahun 1994 silam.

Berdaya Tarik
Kota Biak, sangat strategis. Terletak di Pulau Biak, Teluk Cendrawasih. Hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Hal itu membuat Kota Biak memiliki suhu udara yang panas. Suhu rata-ratanya 27,2 derajat Celecius dengan tingkatkan kelembaban sekitar 86%. Ditambah pula dengan topografinya yang penuh batu karang.

Kota Karang adalah julukan untuk Kota Biak. Di sela-sela karang memang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Hal itu membuat Kota Biak indah dipandang.

Pulau Biak sendiri adalah bagian dari gugusan pulau yang berada di sebelah utara daratan Pulau Papua yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Bersama Pulau Numfor dan sekitar 42 pulau kecil lainnya, Pulau Biak sangat kaya dengan wisata laut.

Dulu, penjajah Belanda sangat tertarik dengan Kota Biak dan bahkan sudah membuat perencanaan jangka panjang. Belanda menyebut Biak dengan sebutan, Schouten Eilanden, merujuk pada nama seorang tentara Belanda yang mengunjungi tempat itu pertama kali pada awal Abad 17.

Di Kota Biak,Belanda membangun bandar udara (bandara) terpanjang di Nusantara, 3.517 meter dengan lebar 40 meter. Bandara ini dibangun tahun 1930-an. Terletak di tepi Pantai Ambroben, wilayah adat Swapodibo. Di bandara ini pula, Jepang mendarat di Papua dan menjadikannya sebagai pangkalan militer tahun 1943.

Jepang menyempurnakan proyek bandara itu. Namun, malang bagi Jepang. Tak berapa lama menggunakannya, mereka takluk pada kekuatan tentara sekutu. Bandara Ambroben dikuasi tentara sekutu, yang selama masa PD II dijadikan pangkalan bagi Royal Australian Air Force. Oleh tentara sekutu, bandara itu diberi nama Mokmer Airport, 1947 dan selanjutnya dibawah kekuasaan Belanda.

Belanda ingin menjadikan Mokmer Airport sebagai pusat pangkalan penerbangannya di Asia Pasifik. Tidak hanya penerbangan militer, tetapi lebih untuk keperluan komersial. Sejumlah fasilitas untuk kepentingan bisnispun dibangun. Karena itu, sebuah hotel mewah, KLM Hotel, dibangun 1958. KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij/Royal Dutch Airlines) adalah nama maskapai penerbangan nasional Belanda. Belanda membuka jalur penerbangan internasional, Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles (USA) dan Jakarta-Denpasar-Biak-Seatle (USA).
Biak1 Jejak KLM Hotel masih ditemukan berdiri dengan kokok di Biak, yang kini berubah menjadi Hotel Irian. Semenjak 9 Mei 1984, pemerintah Indonesia mengubah nama Mokmer Airport menjadi Bandara Frans Kaisiepo. Nama ini diambil dari nama tokoh integrasi Papua-Indonesia.

Penjelajah Lautan
Nama Biak (Wiak) adalah bahasa setempat yang memiliki beberapa ragam arti. Di antaranya merujuk pada suku yang tinggal di Teluk Cendrawasih, Suku Biak. Suku Biak mendiami Pulau Biak, Pulau Namfor dan gugusan pulau lain di sekitarnya.

Mereka dikenal sebagai penjelajah lautan untuk mencari sumber makanan. Ketika mereka muncul dari tengah laut, orang di darat menyebut mereka v’iak yang artinya ‘muncul’.
Daerah ini memang kurang subur dan kering. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat mereka harus keluar dari wilayahnya untuk mencari sumber makanan.

Tak mengherankan kalau di Papua dan Papua Barat, cukup banyak tersebar orang-orang Suku Biak. Mereka menyebar untuk mencari sumber pangan. Suku Biak dikenal sebagai perantau ulung.

Menjadi perantau membuat mereka cukup pandai dalam berdagang keliling. Mereka berkenalan dan terbiasa berinteraksi dengan banyak orang. Pergaulannya menjadi lebih terbuka.

Adapun barang dagangan mereka adalah sagu, kulit kayu massoi, bulu burung cendrawasih dan sebagainya. Suku Biak memiliki beragam jenis kerajinan. Kerajinan itu selain berasal dari budaya mereka sendiri, juga berdasarkan apa yang mereka lihat dan temukan selama keluar dari kampung halaman saat berdagang ke daerah lain.

Kemampuan mereka dalam belayar di lautan diakui oleh penjajah Belanda. Belanda menyebut Suku Biak sebagai Papoesche Zeerovers atau bajak laut dari Papua. Kearifan lokal yang mereka miliki dalam membaca arah angin di lautan sangat luar biasa. Bahkan sejumlah pelaut Belanda belajar navigasi dari mereka untuk menaklukan perairan Maluku.

Biak Kini

Kabupaten Biak Numfor kini memiliki sekitar 150.000 jiwa. Meski wilayahnya telah dimekarkan menjadi beberapa daerah otonomi baru (DOB), perkembangan Kabupaten Biak Numfor sebetulnya tak terlalu menggembirakan. Ditutupnya penerbangan internasional dari Bandara Internasional Frans Kaisiepo adalah bukti yang sulit dielak. Meski kemudian dibuka kembali, tetapi geliatnya masih kurang terlihat.

Pertumbuhan industri ekonomi agak lesu. Sejumlah pabrik yang sempat tumbuh di masa lalu, terpaksa gulung tikar, termasuk pabrik pengalengan ikan, Biak Mina Jaya. Bahkan, saat daerah lain di Papua mengalami pertumbuhan ekonomi yang siginifikan, Biak-Numfor tak ikut di dalamnya. Perkembangannya malah melambat, 2017 lalu. Sektor pertanian, jasa dan bahkan perikanan tak kunjung membaik.

Kini Biak berupaya menggenjot sektor pariwisata. Festival Biak digelar beberapa tahun terakhir untuk menarik wisatawan. Di samping karena alamnya yang mempesona dan menawan, juga situs sejarah di Biak menyimpan banyak kenangan. Wisata di Biak pun makin lengkap.