Budaya Papua dalam Batik Papua

Ekonomi May 09, 2019

Pokja Papua – Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw-Jayapura, Papua, 9-11 Mei 2019, diadakan Event Festival Crossborder Skouw 2019. Festival ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan pemerintah daerah. Ini adalah salah satu moment yang diadakan untuk mempromosikan Batik Papua.

Tentu, ada juga berbagai kerajinan khas Papua lainnya yang dipertunjukkan, seperti noken, kopi papua dan sebagainya.

Moment ini bersamaan dengan dipilihnya batik sebagai dress code sidang Dewan Keamanan PBB, 7 Mei 2019. Dalam sidang dewan keamanan PBB ini, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dan delegasi yang hadir menggunakan batik dan motif tenun.

Tentu, ini menjadi kehormatan tersendiri bagi Indonesia yang memegang Presidensi Dewan Keamanan PBB bulan Mei 2019. ”Sangat menyenangkan bahwa dalam sidang ini cantik dan colorful, karena sebagian besar anggota DK PBB mengenakan batik, termasuk Sekjen PBB mengenakan tenun dari Bali,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Batik memang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia.

Selama ini, membicarakan batik selalu identik dengan Yogjakarta dan kota-kota lain di Jawa Tengah. Padahal, batik sebenarnya sudah ada di daerah-daerah lain juga, termasuk Papua. Setiap daerah sebetunya pula memiliki kain tradisional masing-masing, seperti kain tenun. Bahkan, sebenarnya kain-kain dari Papua tak kalah unik dan menarik.

Kerajinan batik di Papua sangat khas dalam menceritakan budaya Papua.Mengenal asal usul orang Papua bahkan bisa ditelusuri dari batik yang ia kenakan. Mayarakat Papua adalah orang yang sangat mencintai dan menghargai budaya dan asal-usulnya.
Batik-Papua
Batik Papua umumnya berwarna cerah dan tegas, bercorak riang gembira dan elegan yang diadopsi dari kekayaan budaya dan kekayaan alam Bumi Cenderawasih. Motifnya sangat beragam, yang diambil dari gambar burung, ikan, simbol-simbol budaya Papua, gambar manusia Papua, peralatan yang mereka gunakan sehari-hari dan sebagainya.

Ada motif bergambar burung cenderawasih, burung kasuari, honai (rumah khas Papua), busur, panah, patung, tifa, noken, matoa, pohon pinang, dan sebagainya. Pengrajin melukiskan kekayaan dan keindahan yang mereka jumpai atau juga menggambarkan filosofi budaya yang pegang dalam batiknya.

Seperti diungkap Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata, Muh. Ricky Fauziyani, beberapa waktu lalu, Batik Papua itu khas karena ditampilkan asimetris. Tidak seperti batik umumnya yang tampil simetris, seperti motif Yogyakarta atau Solo. “Motifnya beragam yang dikembangkan dari kehidupan keseharian masyarakat Papua. Hal ini semakin menguatkan karakternya,” kata Ricky.

Ada juga pengrajin yang menggambar pohon pinang dalam batiknya. Ini memang tanaman yang banyak ditemukan di Papua. Masyarakat Papua terbiasa makan sirih pinang. Nah, dalam hal pewarnaan buah pinang inilah yang kemudian banyak dipakai, selain pewarna dari kayu besi, untuk membatik. Hasilnya, sungguh berkualitas. Tidak luntur dan karakter warnanya tegas.Namun, selain pewarna dari buah pinang dan kayu besi, pebatik Papua juga banyak yang menggunakan pewarna dari pabrik.

Seperti juga daerah lain, Batik Papua terdiri dari batik tulis dan cetak. Namun, batik tulis masih tersedia dalam jumlah yang terbatas karena dikerjakan dengan menggunakan waktu lama. Selain itu, pengrajin batik tulis belum terlalu banyak. Sementara batik cetak, sekalipun dikerjakan dengan peralatan sederhana, bisa dengan mudah didapatkan di sejumlah lokasi di Jayapura dan kota-kota lain di Papua dan Papua Barat.

Pembina Pokja Papua, Noviar Andayani, sangat mendukung berbagai macam promosi kerajinan khas Papua tersebut. Ia berharap para pengrajin batik Papua terus disemangati dalam berkarya dan difasilitasi apa yang menjadi kekurangan mereka. Ia mengatakan ada banyak jenis kerajinan Papua lainnya yang perlu diangkat ke permukaan sehingga menjadi sumber penghasilan mereka.

Apakah anda sudah mengoleksi Batik Papua?

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia