Cara Jokowi Memeluk Papua

Ekonomi Apr 30, 2019

JAYAPUARA – Pemerintah telah dan akan terus membangun sejumlah pasar modern yang memprioritaskan pedagang asli Papua (bapa-bapa dana mama-mama Papua) bisa berjualan dengan leluasa di Tanah Papua.

Pasar modern tersebut dilengkapi dengan tempat makan dan minum kopi untuk bersantai serta jaringan WiFi yang bisa digunakan secara gratis dan kecepatan maksimal. Beberapa pengusaha café dan restoran ternama di Tanah Air ikut membantu secara gratis untuk menata tata letak isi pasar agar lebih menarik dan menyenangkan, nyaman dan betah.

Setidaknya, jika di tempat lain di nusantara ini orang mencari tempat santai untuk makan dan minum kopi atau juice ke café dan restoran ternama, di Tanah Papua orang di arahkan ke pasar bapa-bapa dan mama-mama Papua. Di sana pengunjung bisa menikmati kopi dan makanan khas Papua serta pulang ke dengan belanjaan oleh-oleh khas Papua.

Hal ini sebagai affirmative action bagi bapa-bapa dan mama-mama Papua yang selama ini hanya bisa berjualan di trotoar atau emperan jalan yang kotor, bedebu di musim kemarau, becek serta banjir di musim hujan.

Seperti diceritakan Mama Elisabeth kepada SHNet di Pasar Pharaa, Abepura akhir Februari 2017 lalu, pernah sekali waktu seluruh barang dagangannya hanyut disergap banjir beberapa waktu silam. “Sebelum pasar terbakar. Barang-barang semua hanyut. Tidak bisa dipungut semua,” katanya.

Mama Elizabeth sangat senang dengan Pasar Pharaa yang baru selesai dibangun pemerintah dan akan segera digunakan dengan memprioritaskan pedagang asli Papua. Karena itu, saat pendataan pedagang yang hendak berjualan di pasar tersebut, ia langsung mendaftar. “Dorang (mama-mama Papua) semua senang. Apalagi ini program bapak (Presiden Jokowi-red) toh?” katanya.
Pokja1
Sehari-hari Elizabeth menjual sirih pinang dan ubi-ubian. Di waktu tertentu ia juga menjual sayuran yang dibawa dari kampung halamannya. Perjalanan dari kampung menuju Pasar Fara sekitar empat jam dengan angkutan umum. Bisanya ia berangkat jam 12 malam dari rumahnya dan sampai di pasar sekitar jam 04.00 pagi.

Barang-barang jualannya jarang habis terjual dalam sehari. Paling cepat habis terjual setelah dua hari. “Kalau sirih pinang tidak apa-apa kalau belum jual semua. Sayur ini cepat busuk,” katanya.

Selama dua hari berjualan, ia tidur di emperan pasar tanpa alas apapun. Karena itu, ia akan menunggu sampai benar-benar ngantuk baru tidur. Bagian dalam pasar sudah dikuasi pedagang yang datang dari pulau lain dan memiliki uang untuk menyewa kios.

Hal serupa juga diceritakan Mama Yapita yang menjual ikan. Malah Mama Yapita mengalami resiko lebih tinggi atas barang dagangannya itu. “Mana bisa ikan disimpan lama-lama. Kalau orang jalan lagi hujan, ikan kena lumpur semua karena kaki tendang-tendang lumpur,” katanya. Itulah sebabnya Mama Yapita sangat senang dengan pelatihan yang selenggarakan Pokja Papua untuk menciptakan pasar bersih dan rapih bagi mama-mama Papua.

“Ini bagus. Diajarin untuk bersihkan kuku juga. Kalau kami kotor mana mau pembeli. Nanti ada tempat sampah dan petugas toh,” kata Mama Funai di Pasar Skow. Mama Funai memiliki hobi memancing ikan, namun sehari-hari menjual bensin eceran dan roti. Namun, roti itu bukan hasil buatannya sendiri, tetapi dari pedangan lain.

“Saya tidak punya alat bikin roti. Tidak bisa bikin roti. Kalau ada yang ajar, saya mau,” katanya. Menjual roti di pasar yang kotor, becek atau berdebu tentu sulit. Siapa pula yang ingin makan roti dan berujung masuk rumah sakit. Di Skow puksesmas letaknya cukup jauh pula.

Sangat Ingin Maju
Mama-mama Papua sangat ingin berjualan layaknya penjul di pasar modern. Kendalanya mereka kesulitan untuk membayar sewa tempat di pasar. Selain itu, umumnya mereka hanya menjual hasil bumi yang belum diolah sama sekali. Dalam seminggu, tidak tiap hari berada di pasar dan berjualan. Sangat tergantung pada hasil bumi yang ada di kampung halaman masing-masing.
Pokja2

Lokasi jualan yang tidak layak membuat pembeli enggan berbelanja untuk barang dagangan mama-mama Papua. “Itu hal yang normal. Siapa yang mau beli barang dagangan mereka kalau lokasi jualannya kotor. Ya mendingan orang beli di tempat lain,” kata Ketua Pokja Papua Jokowi-JK, Judith Jubilina Navarro Dipodiputro di Jayapura beberapa waktu lalu.

Karena itu, pelatihan untuk memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan pasar sangat penting pada tahap awal setelah pasar ada. Ya, ini pelatihan tahap awal. Menurut Yudith, tidak mudah melatih mama-mama Papua yang berasal dari berbagai macam suku dan kultur yang berbeda-beda, dari gunung dan lembah sedaratan Papua.

“Kita harus data dan tahu mereka jualnya apa saja. Mereka harus tahu menjaga kebersihan. Setelahnya nanti dilatih berbisnis, jaringan dan pendampingan yang intensif. Ini butuh kesabaran dan konsistensi,” kata Yudith.

Yudith mengungkapkan tantangan dalam menjalankan visi misi Presiden Jokowi untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat Papua tidaklah mudah. Namun, langkah yang dilakukan saat ini sudah pada jalur yang benar. Pemberdayaan dan penguatan ekonomi masyarakat adalah tahap awal. Jika pemberdayaan dan penguatan ekonomi masyarakat berjalan dengan baik dan benar, Papua akan selalu dalam pelukan Indonesia.

Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Provinsi Papua, Kasim Saleh, berharap program pelatihan dan pendampingan yang dilakukan Pokja Papua terhadap pedagang-pedagang asli Papua akan berjalan secara konsisten. Ia yakin dengan konsistensi yang terjaga, hal tersebut akan mendapat hasil yang maksimal di kemudian hari.

“Jangan kita bayangkan Papua seperti daerah lain. Saya harap dengan ini Papua akan makin rekat dipelukan Indonesia,” kata Saleh Kasim. (Inno Jemabut)

Sumber: http://sinarharapan.net/2017/03/cara-jokowi-memeluk-papua-1

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia