Fientje Maritje Suebu, Perempuan Papua Pertama Menjabat Wakil Kepala KBRI India

Jakarta, 27 Maret 2018-- Kesuksesan bagi sebagian besar orang terkait dengan jumlah properti yang dimiliki atau banyaknya throphy yang diperoleh. Tapi, bagi seorang diplomat asal Papua yang telah bertugas 31 tahun di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, definisi kesuksesannya adalah, Prestasi yang menghasilkan kebahagiaan.

“Kami berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam hidup ini dan merasa senang karenanya, baik di tempat kerja, di rumah, membesarkan keluarga dan memelihara hubungan, mendidik anak-anak, atau apapun yang mengarah pada kepuasan adalah kesuksesan,” ucapnya seperti dikisahkan oleh Nalikoy Sarwom di web peranperempuan.

Sederhana namun bermakna

Di dalam kantor yang klasik, duduk di depan meja eksekutif cokelat gelap adalah Fientje Maritje Suebu, Wakil Kepala Perwakilan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk India, diangkat menjadi Wakil Kepala Perwakilan di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di New Delhi sejak Februari 2018. Berpakaian elegan dengan blazer hitam, tata rambut yang sengaja ia tampilkan apa adanya untuk menyiratkan ia adalah seorang Mama-mama Papua.

Diplomat perempuan Papua pertama yang bekerja sebagai Wakil Kepala Perwakilan untuk negaranya adalah suatu kehormatan dan prestasi yang manis. “Bangga dipercayakan dengan posisi ini dan ini merupakan kehormatan bagi saya dan keluarga untuk bisa melayani bangsa,” kata Fientje saat dihubungi melalui telepon.

Ketika ditanya mengapa dia memilih menjadi diplomat, dengan jujur ia menjawab bahwa pada awalnya ia tidak menyangka akan menjadi diplomat, yang ia inginkan setelah direkrut oleh kementerian (Departemen Luar Negeri) pindah ke Jakarta dan bekerja. Tetapi dengan pelatihan dasar yang diterima di Sekolah Dinas Luar Negeri, keinginan untuk menjadi seorang diplomat berkembang dan ia ingin menjadi bagian dalam mempromosikan dan bekerja untuk kepentingan bangsa kepada negara-negara sahabat.

Hidup tidak selalu mudah bahkan bagi anak perempuan satu-satunya di antara lima putra seorang Kepala Suku. Terutama sebagai wanita yang mengejar karier sebagai diplomat dan ibu. Tugas mengharuskannya untuk melakukan perjalanan ke negara lain setiap tiga sampai empat tahun, berakrobat antara tugasnya sebagai wanita karier dan ibu. Di antara banyak tantangan, salah satunya adalah beradaptasi dengan berbagai sistem pendidikan di negara lain, tidak hanya di mancanegara bahkan di Indonesia, keluarganya berjuang untuk mengimbangi kesenjangan.

“Kami harus mengelola bermacam perbedaan budaya yang sangat besar, baik di sekolah dengan perbedaan mata pelajaran dan pekerjaan rumahnya,” ujarnya. “Pada satu titik waktu keluarga diminta untuk pindah selama ujian sekolah, sebagai akibatnya anak-anak harus diturunkan kelasnya,” kisahnya.

Dengan banyaknya rintangan, Ice, begitu kerabatnya biasa memanggilnya, menundukkan semuanya dengan dukungan setia dari suaminya Pendeta Philipus Sarwom, yang bertahan tinggal di Jakarta, membimbing ketiga anak mereka untuk menyelesaikan pendidikan tinggi, namun yang terpenting mendapatkan rasa hormat dan cinta dari keluarga mereka.

Ada kecenderungan dari sebagian masyarakat untuk meremehkan seseorang yang berasal dari Papua, dan seringkali ada stereotip negatif dari sebagian orang terhadap mereka yang berasal dari wilayah paling timur Indonesia. Inilah yang Fientje coba tunjukkan, setiap hari, bahwa orang Papua mampu berdaya sebagaimana orang lainnya.

Fientje percaya bahwa perempuan Indonesia dan khususnya perempuan Papua dapat menjadi agen perubahan di bidangnya masing-masing tidak hanya menduduki posisi eksekutif, legislatif atau yudikatif yang penting namun mampu bersaing dalam era globalisasi ini.