Frans Kaisiepo Tetap Setia Menyambut Anda di Biak

Ekonomi Jul 01, 2019

POKJA PAPUA – Biak memiliki sejumlah lokasi wisata unik dan menarik. Di sekitar salah satu kota di Propinsi Papua ini, spot wisatanya lengkap, mulai dari pantai, air terjun, gunung hingga wisata sejarah.

Kota Biak, Ibukota Kabupaten Biak Numfor, adalah kota bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di masa lalu, Biak adalah bagian dari Kesultanan Tidore, salah satu kerajaan terbesar di Indonesia bagian timur. Kesultanan ini berpusat di Pulau Tidore, Maluku Utara saat ini.

Di Kota Biak, juga pernah terjadi pertempuran sengit antara tentara Jepang dengan tentara sekutu ketika Perang Dunia II. Letak Kota Biak memang sangat stategis. Berada tepat di Teluk Cenderawasih membuatnya menjadi sangat nyaman. Berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Ia menjadi salah satu kota tua yang terbentuk di Papua, sekitar tahun 1900 awal.

Dikelilingi oleh pesona alam yang memukau dan mempesona untuk berwisata. Jika Kota Kaimana, Papua Barat, dikenal sebagai Kota Senja, tempat menikmati sunset paling asik, Kota Biak adalah Kota Pantai yang eksotis dan elok, menawan nan indah.

Pantai Bosnik atau Pantai Segara Indah di Biak Timur, misalnya, sangat popular bagi wisatawan dan warga Biak. Letaknya tidak jauh dari pusat kota. Memiliki pasir putih dengan atap pohon-pohon yang hijau dan rimbun. Di beberapa bagian, terdapat karang yang sangat asik untuk duduk santai sambil menikmati pemandangan ombak yang pecah di antara pulau-pulau batu beberapa ratus meter dari bibir pantai.

Ada juga Pantai Anggaduber, yang terletak di Desa Anggaduber Biak Timur. Pantai ini menjadi salah satu tempat favorite untuk diving dan snorkeling karena kawasan lautnya tenang dan memiliki terumbu karang serta biota laut berbagai jenis. Lokasi wisata ini tak jauh dari Pantai Bosnik.

Masih banyak pantai-pantai lain yang bisa dijajal. Misalnya, Pantai Soryar yang masih sangat alamiah dan tidak ternoda sampah manusia, Pantai Wari Biak, Pantai Maraw, dan Pantai Batu Picah.
Padaido

Jika puas dengan wisata pantai, bisa berpindah menikmati Air Terjun Wafsarak di Distrik Warsa. Air terjun yang berwarna hijau dengan ketinggian sekitar 10 meter. Segar dan asri. Jika di tempat lain, lokasi wisata seperti ini banyak ditemukan botol bekas minuman, sampah plastic, kertas dan sebagainya dari para pengunjung, tidak demikian halnya dengan lokasi wisata yang ada di Biak. Semua tampak asri dan bersih.

Di lokasi spot foto ganteng dan cantik seperti Bukit Satu, masyarakat setempat sangat peduli dengan kebersihan lingkungannya. Bukit Satu adalah tempat menikmati Kota Biak. Dari situ, Anda bisa memandang ke mana saja lokasi wisata yang telah dikunjungi. Bukit Satu adalah tempat beristirahat sejenak, meregangkan kembali otot-otot yang capai setelah berjalan mengitari lokasi wisata lain di Biak. Tidaklah lengkap menginjakkan kaki ke Kota Biak, jika tak punya foto cantik dan ganteng di Bukit Satu.

Bandara Bersejarah
Nah, agar sampai ke lokasi-lokasi wisata itu, pintu masuk yang perlu diketahui adalah Bandara Internasional Frans Kaisiepo (BIK/WABB). Bandara yang dibangun sekitar tahun 1930-an. Inilah bandara yang menjadi pusat penerbangan pada masa penjajahan Belanda di Papua. Bahkan landasan pacu yang hingga kini digunakan masih merupakan peninggalan pada masa Perang Dunia II. Ia adalah bandara dengan landasan pacu paling panjang keempat di Indonesia, 3.517 meter.

Pada masa penjajahan, namanya Bandara Mokmer. Berubah menjadi Bandara Biak dan berubah lagi menjadi Bandara Frans Kaisiepo pada tahun 1980-an. Frans Kaisiepo adalah nama Gubernur Papua, 1964-1973, seorang pahlawan pejuang yang mewakili Papua pada Konferensi Malino, 1946, saat menyusun pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS).

Sosok Frans Kaisiepo sangat dihargai dan dihormati, tidak saja oleh masyarakat Papua dan Papua Barat, tetapi juga oleh seluruh bangsa Indonesia. Perannya dalam membangun Papua sangat penting. Dialah yang memperkenalkan nama Irian (Jaya) sebelum dikembalikan ke nama asli, Papua, oleh Presiden Abdurahman Wahid (1999-2001) untuk
wilayah tersebut.

Irian dalam bahasa Biak artinya tempat yang panas. Frans dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tangguh. Teguh dalam prinsip dan sangat mencintai warganya. Untuk mengenangnya, selain dijadikan nama Bandara Biak, juga dipatenkan dalam pecahan uang Rp 10.000 oleh Bank Indonesia saat ini.

Tak jauh dari Bandara Frans Kaisiepo, juga terdapat hotel bersejarah yang didirikan oleh maskapai penerbangan Belanda, KLM. Ada RIF Hotel yang berdiri tahun 1952, yang sekarang berubah menjadi Asana Biak Papua. Pada masa itu, Belanda memang ingin menjadikan Biak sebagai pusat penerbangan lalulintas udara internasionalnya di Indonesia. Pada tahun 1960, KLM bahkan sudah menggunakan Bandara Frans Kaisiepo dengan rute penerbangan Biak-Tokyo-Amsterdam.

Pilihan Belanda itu tak lain karena lokasi Biak yang sangat stategis dan memiliki potensi wisata dan alam yang sangat kaya. Ia dekat dengan negara tetangga, seperti Philipina, Papua New Guinea. Semenjak itu, bandara tersebut berstatus international airport.
Frans-Kaisiepo1

Namun, dalam perjalanan waktu, perkembangan BIK mengalami pasang surut. Bahkan sempat dikeluarkan dari status bandara internasional, Garuda Indonesia mengurangi penerbangan, dan sebagainya. Namun, setelah melalui sejumlah perbaikan, ia kembali lagi sebagai bandara internasional.

Gerbang Ambisi
Pemerintah Propinsi Papua sangat beruntung memiliki bandara yang sekarang dikelola oleh PT Angkasa Pura I (Persero) tersebut. Dengan potensi wisata yang ada, Propinsi Papua ingin menjadikan Bandara Frans Kaisiepo sebagai gerbang utama destinasi wisata yang ada. Tentu dengan harapan agar bandara ini perlu perbaikan dan pembenahan agar tampil lebih menarik, modern dan sesuai perkembangan zaman.

Karena itu, pemerintah daerah sangat mendukung program kolaborasi pengembangan daerah tujuan wisata (Collaborative Destination Development (CDD)) untuk pengembangan pariwisata di Baik.

Kegiatan-kegiatan yang bertujuan mendatangkan wisatawan pun terus dimasifkan. Di antaranya adalah Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata. Dalam festival, masyarakat Biak ingin memperkenalkan adat istiadat, seni dan budayanya. Tarian Yospan, parade Wor diperkenalkan dan diperagakan secara masal.

Dalam FBMW ditampilkan bahwa warga Biak adalah orang yang sangat mencintai persaudaraan dan kebersamaan. Mereka adalah orang yang menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia sehingga seluruh perjalanan hidupnya layak untuk dirayakan. Bagi masyarakat Biak, hidup seseorang adalah perjalanan perayaan syukuran yang dilakukan terus menerus, tanpa henti, dari kelahiran hingga kembali ke pangkuan Ilahi.

Mereka adalah orang hanya bisa mengaktalisasikan dirinya dengan bersosialisasi dengan orang lain. Anda pun bisa mengambil bagian dalam perayaan syukuran itu, dengan menghadiri FBMW yang kini rutin dilakukan tiap tahun. Ikut festival sambil menikmati indahnya Taman Laut Padaido. Frans Kaisiepo tetap akan ramah dan setia menyambut Anda di BIK.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia