/ Frederik Paulus Saimar

Frederik Paulus Saimar, Pejuang yang Terabaikan

Janda Frederik Paulus Saimar, Yonsi Saimar, ketika ditemui Petrus Ndiken dari Pokja Papua di kediamannya di Kais, untuk meminta menulis tentang perjalanan hidup suaminya oleh Pokja Papua.

POKJA PAPUA – Tidak banyak yang mengenal namanya, selain di kampung halamannya sendiri. Keluarganya juga tidak mempromosikan agar namanya dikenal luas. Dokumentasi tentang dirinya sangat minim. Padahal, ia adalah figure yang berpengaruh di Sorong Selatan, Papua Barat.

Ia seorang pejuang yang membaktikan diri sepenuhnya pada NKRI. Mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda di Sorong Selatan-Papua pada usia yang sangat muda, 20 tahun. Tidak untuk gagah-gagahan agar dikenal, tetapi mengabdi sepenuh hati yang tulus. Ia berjuang karena rasa cinta pada bangsanya, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan

Frederik Paulus Saimar, pria dari Suku Kais, Sorong Selatan-Papua Barat. Ia adalah pemuda yang mengangkat senjata melawan Belanda di Sorong Selatan tahun 1948. Terlahir dari keluarga tetua adat Suku Kais, 25 Mei 1925 di Kampung Baru, Kais, Sorong Selatan. Ia adalah seorang yang pandai bergaul. Lugas dan luwes.

Semenjak kecil, nalurinya untuk berjuang melawan Belanda sudah terasah. Ia banyak bergaul dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Papua. Pergaulan dan keberaniannya membuat ia sangat disegani oleh siapapun. Sejak remaja, Saimar merasa terusik dengan penjajah Belanda yang seakan menguasai hutan dan sungai di kampung halamannya. Warga Suku Kais, Inanwatan, Kokoda, Matemani yang dipaksa kerja rodi oleh penjajah Belanda.

Hingga kemudian Frederik mewakili sukunya mengikuti acara adat Suku Maybrat. Dari pemuda Suku Maybrat, ia mendengar tentang pemuda-pemuda dari suku lain yang dipenjara Belanda di Boven Digul. Ia lalu mendengar kabar pemuda dari Suku Port Numbay dan Puyaka tidak bisa menjadi tuan atas tanah leluhur mereka sendiri. Ada bangsa lain yang menguasai, yakni Belanda dan Jepang.

Antara suku diadu domba agar saling memberontak satu dengan yang lain. Saimar pun memilih untuk tidak diam. Bangkit dan melawan! Mengkonsolidasi sukunya dan suku-suku lain untuk menjaga tanah adat masing-masing. Mewartakan kepada suku-suku lain tentang bahaya di bawah baying-bayang penjajah Belanda.

Ia memang tidak setenar Frans Kaisiepo, Johannes Abraham Dimara, Marthen Indey dan Silas Papare. Mereka itu adalah empat sekawan yang telah menjadi Pahlawan Nasional dari Papua, yang pernah mengalami masa-masa menjadi tahanan di Camp Boven Digul. Keempatanya adalah didikan langsung Soegoro Atmoprasodjo, guru di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan), Sentani.

Di Kampung Kais, ia adalah tetua adat. Bahkan diangkat sebagai raja karena perjuangannya itu. Ia menjadi Kepala Desa sampai akhir tahun 1960-an. Menurut keterangan istrinya, Yansi Saimar (75), ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Sorong (1967-1972).

Saimar yang keluar masuk penjara pada zaman penjajahan Belanda di Papua, meninggal 17 Juli 2008. Terhadap jasanya bagi keutuhan NKRI, ia telah diberi penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Pepera dari Presiden Republik Indonesia, dengan SK Presiden RI, No. 32/TK/ pada tahun 1976. Janda Frederik Paulus Saimar, Yansi Saimar, kepada Pokja Papua, mengatakan ia telah merelakan rumahnya sendiri yang pernah diberikan tentara Belanda kepadanya, untuk dijadikan museum guna mengenang suaminya.

Tahun 2000 silam, sosok Frederik juga telah diberikan penghargaan sebagai Legiun Veteran Republik Indonesia dengan N.P.V 20.004.126, dan SKEP/003/I/2000 dari Departemen Pertahanan Republik Indonesia. Ia terdaftar di Legiun Veteran Kabupaten Sorong.

Pemerintah juga memberikan penghargaan sebagai Anggota Dewan Musyawarah Pepera Kabupaten Sorong/ Unsur Daerah “Teminabuan” dari Panglima Daerah Militer XVII/Tjendrawasih Ketua Muspida Propinsi Irian Barat.
Rumah-Saimar Kediaman Frederik Paulus Saimar di Kais

Suku Kais
Nah, suku Kais di Sorong Selatan setidaknya mendiami sekitar delapan desa agak pedalaman di Kepala Burung Papua Barat, sepanjang aliran Sungai Kais. Desa-desa tempat tinggal Suku Kais antara lain Desa Kais Kampung Baru, Rinde, Kauting, Danin. Desa-desa ini berada di Distrik/Kecamatan Inanwatan. Jumlah penduduk Suku Kais diperkirakan mencapai 800 orang.

Di Sorong Selatan, ada tiga suku besar dengan sejumlah anak suku. Pertama, Suku Maybrat memiliki anak suku Mai Yah, Mai Ithe dan Mai Maka. Suku ini mendiami daerah bagian tengah, utara, timur. Juga ada Suku Mare, Ayamaru Utara, Ayamaru, Aifat, Aifat Timur, Moswaren dan Aitinyo.

Kedua, Suku Tehit dengan Anak Suku Sawiat, Imian, Saifi, Gemna, Nakna, Afsya dan Ogin. Mereka mendiami wilayah tengah dan barat bersama suku Sawiat, Seremuk, Teminabuan dan Wayer.

Ketiga, Suku Imekko degan Anak Suku Inanwatan; Matemani; Kokoda dan Kais yang mendiami daerah selatan yaitu Kais, Inanwatan dan Kokoda. Dari ketiga suku tersebut, Suku Maybrat adalah suku terbesar dengan sebaran paling luas di Kabupaten Sorong. Suku Kais, salah satu anak suku.

Perkembangan Kabupaten Sorong Selatan sebetulnya di mulai dari sekitar aliran Sungai Kais ini. Tepatnya, dimulai dari Kota Teminabuan. Kota ini terletak di tepi Sungai Kaibus. Ia adalah pusat perdagangan sejak zaman kesultanan Ternate-Tidore.

Berbagai komoditi pertanian dari pedalaman Papua diperdagangkan di sini. Mulai dari hasil hutan, sagu, bulu burung dan kerajinan diperdagangkan dengan cara barter di tempat ini. Para pedagang dari Tidore-Ternante membawa kain dan porselen untuk ditukarkan dengan kayu, bulu burung dan sagu.

Sebagai kerajaan, Kerajaan Ternate-Tidore memang jauh lebih maju dari penduduk Sorong Selatan. Bahkan pedagang dari Ternate-Tidore bisa pulang membawa budak dari daerah Muara Sungai Kaibus dan Waromge. Jika penduduk asli Papua bisa menukarkan hasil buminya dengan kain dan porselen, status sosialnya dianggap meningkat, dipandang sebagai orang berada. Kain dan porselen yang diperoleh dengan barter itu dianggap sebagai lambang kekayaan, tanda status sosial yang tinggi.

Tahun 1917, pemerintah Hindia Belanda masuk ke Kota Teminabuan. Kehadiran Belanda ditentang dan dilawan warga setempat. Tercatat pula di Teminabuan, pada tanggal 27 Januari 1927, dua orang penginjil dari Maluku yaitu Matatula dan Yotleli, didampingi oleh Pendeta J. Wetstein masuk ke kota kecil itu. Mereka datang untuk menyebakan agama Kristen. Misi mereka kemudian diikuti dengan pembangunan lembaga pendidikan setingkat SD pada tahun 1930 oleh pemerintah Hindia Belanda. Sekolah berasrama.

Pendidikan di sekolah itu berjalan hingga datang masa pendudukan Jepang di Indonesia. Jepang sempat mengambil alih. Namun, ketika Jepang kalah dalam PD II melawan Tentara Sekutu tahun 1945, Belanda kemudian mengambilnya kembali. Pada tahun 1950, Belanda mendirikan Sekolah YVVS untuk laki-laki dan Sekolah MVVS pada tahun 1956 – 1957 untuk perempuan.

Belanda juga memindahkan pusat pemerintahan untuk wilayah Kepala Burung Bagian Selatan dari Ayamaru ke Teminabuan tahun 1954. Bangunan sekolah-sekolah itu masih bisa ditemukan hingga saat ini dalam keadaan utuh.