Hila Imae, Kita Orang Maju

PokjaPapua Aug 27, 2019

Mama Papua mendapat pelatihan kerajinan yang difasilitasi Pokja Papua

POKJA PAPUA – Anak-anak suku asli Papua tidak terbiasa ditinggal ibunya sebelum usia akil balik. Sebelum akil balik, mereka ke mana-mana mengikuti dan menemani ibunya. Ketika ibunya ke pasar sebagai pedagang, anaknya dikutsertakan. Digendong jika belum bisa berjalan sendiri.

Demikian juga ketika ke kebun dan hutan untuk memungut atau memetik hasil bumi. Hasil bumi dipikul atau diletakan di atas kepala. Sementara anak kecil digendong atau dipangku dengan menggunakan noken (tas khas Papua).

Hingga ia bisa mulai paham dan mengerti tentang hidupnya, anak laki-laki akan mengikuti ayahnya. Sedangkan anak perempuan terus mengikuti keseharian ibunya hingga saatnya ia menikah. Usai usia akil balik itukah anak-anak suku asli mulai banyak bergaul dengan dunia luar, dengan komunitas di luar keluarga.

Ini adalah tradisi dan budaya suku-suku asli Papua, bahwa seorang mama atau ibu memiliki tanggung jawab lebih pada perkembangan anak pada usia dini. Mama adalah jaminan hidupnya. Sebagian besar adalah tergantung mama. Tentu, tanpa mengambaikan peran ayah atau bapa.

Mama Papua memang menjalankan kesehariannya dengan tugas yang sungguh berat. Tidak cuma mengandung, melahirkan dan menyusui, tetapi juga menafkahi, mendidik dan membimbing sesuai kemampuannya hingga usia akil balik tadi. Apa yang ia pahami tentang hidup dan segala seluk-beluknya, itulah yang ia wariskan dan ajarkan ke anaknya.

Mama Papua masuk-keluar kebun atau hutan untuk mencari, memungut dan memetik hasil bumi. Hasil bumi itu dibawa ke pasar-pasar tradisional. Tak jarang hanya dijajakan di emperan pertokoan atau rumah warga dan menunggu hingga habis terjual baru pulang ke rumah. Bisa menunggu hingga berhari-hari. Perjalanan mereka ditempuh dengan jalan kaki, tanpa alas kaki, hingga puluhan kilometer. Mereka kadang tidak tahu berapa kilometer jalan yang telah mereka tempuh hingga sampai ke pasar tempatnya berjualan.

Minimalisir Beban
Nelly Nalikoy Insowibinderi Sarwom, staf Pokja Papua memberi pelatihan terhadap Mama Papua

Inilah salah satu hal yang melatari pasar-pasar modern di Papua dan Papua Barat yang dibangun era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dibangun sebagai pasar terintegrasi. Tidak hanya pasar sebagai tempat mempertemukan penjual dan pembeli. Pasar juga jadi tempat anak-anak bersosialisasi sejak dini, tempat anak-anak bermain dan mengekspresikan dirinya. Pasar terkoneksi dan memiliki fasilitas serta layanan lain.

Oleh pemerintah saat ini, Mama Papua diprioritaskan menjadi padagang di pasar modern. Dengan demikian, mereka tak lagi berjualan di emperan pertokoan atau di pinggiran pasar yang panas, penuh debu atau kena hujan dan becek. Mereka bisa menjual hasil bumi yang mereka miliki di tempat yang bersih dan sehat. Beban hidup mereka juga diminimalisir sebisa mungkin.

Di pasar mereka diupayakan berkonsentrasi untuk berdagang, meningkatkan taraf ekonomi. Mereka tidak harus kerepotan mengurus anaknya. Mereka juga tidak cemas dan gelisah karena kemalaman dan barang dagangan belum laku terjual. Tidak sibuk mencari tempat untuk bernaung di malam hari. Tidak risau akan terkena sakit karena kedinginan atau lelah karena telah menempuh perjalanan cukup panjang. Caranya?

Pasar memiliki taman bermain (kelas adik) dan homeschooling (kelas kakak) bagi anak-anak. Anak-anak bisa dititip di situ. Pasar memiliki fasilitas Rumah Anak Harapan (RAH) seperti di Pasar Mama Jayapura atau hila imae di Pasar Pharaa Sentani. Hila imae adalah bahasa Suku Puyaka, salah satu suku asli Papua di Sentani.

Keberadaan hila imae atau RAH, dalam penataan Pasar Mama yang digagas oleh Pokja Papua bertujuan untuk mengajarkan anak-anak dari berbagai suku asli Papua berteman dan berkawan, saling mengenal dan saling bertegur sapa. Di sini anak-anak bisa bersosialisasi satu dengan yang lain yang dibantu oleh fasilitator yang disiapkan oleh pemerintah daerah, CSR BUMN, pekerja LSM atau siapapun yang bisa bekerja dengan sukarela. Karena itu, hila imae atau RAH tidak dipungut biaya apapun.
RAH1-1 Golda Ketrie, seorang pembina dari Pokja Papua sedang membimbing anak-anak di hila imae

Hila imae atau RAH adalah bagian dari Gerakan Papua Bekerja dan Unggul: Tongmaju. Tongmaju diambil dari dialek Papua, Kita Orang Maju, yakni optimalisasi pemanfaatan teknologi komunikasi, data, teknologi digital dan analog sebagai sarana komunikasi antara kampung dengan seluruh pemangku kepentingan.

Dengan Tongmaju, dimaksudkan untuk menyambungkan kampung dengan ekonomi daerah, kampung dengan akses pendidikan. Dengan demikian, pada masa yang akan datang bisa menghasilkan generasi yang maju dan bermutu. Di hila imae, anak-anak dilatih dan dibekali dengan pendidikan dasar. Latihan menggambar, mewarnai, menulis, membaca dan lain-lain. Dengan demikian, pendidikan yang ia peroleh di usia dini, tidak semata-mata dari mama, tetapi juga bervariasi dari orang-orang lain.

Selain hila imae, pasar juga memiliki fasilitas hila fenemi imae di Pasar Pharaa Sentani atau Rumah Keluarga Sehat Sejahtera (RKSS) di Pasar Mama Jayapura. Hila fenemi imae atau RKSS adalah fasilitas pertolongan pertama keadaan darurat bagi Mama Papua. Kesibukan yang berat membuat Mama Papua kerap tak peduli dengan kesehatan.

Nah, di hila fenemi imae atau RKSS, mereka bisa memeriksa kesehatan mereka secara berkala, mendapat pelayanan kesehatan. Tak jarang dan bahkan sangat sering terjadi Mama Papua tetap berjualan di emperan pertokoan atau pinggiran pasar dalam keadaan menahan sakit.

Sulit membayangkan, seorang pedagang melayani pembeli dalam keadaan sakit sambil menggendong anak kecil dalam noken. Tetapi inilah kenyataan karena terbatasnya pilihan yang bisa dilakukan Mama Papua. Program RKSS di pasar yang dibangun oleh pemerintah bertujuan untuk mengurangi beban seperti itu.

Kita menginginkan agar Mama Sehat, Anak Bahagia, Keluarga Sejahtera. Nah, sekarang sejumlah pasar telah dibangun oleh pemerintahan Presiden Jokowi dan telah diserahkan kepada pemerintah daerah untuk mengelolanya. Program penataan dan pelatihan di pasar-pasar juga telah dilakukan. Tinggal saja bagaimana pemerintah daerah terus melanjutkan dan mengembangkan program-program tersebut agar menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia