Jadi Petani Kopi Itu ”Cool”…

Feb 15, 2018

Anak muda ramai-ramai berbisnis kopi. Kedai kopi nongol dimana-mana. Barista, roaster, menjadi profesi yang atraktif. Lantas, anak muda mana yang mau jadi petani kopi?

Yanlani (25) terlihat kikuk melayani seorang tamunya di kedai Anomali Coffee di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Siang itu adalah hari kedua pemuda Papua ini magang di kedai. Bagaimana tak kikuk ketika seorang tamu laki-laki tiba-tiba mengajaknya berswafoto bersama? Padahal ia tak merasa selebriti, apalagi seleb medsos (media sosial). Setelah si tamu berlalu sambil membawa gelas karton berisi cappuccino, Yanlani tersenyum rileks.

”Dia orang dari Merauke, katanya senang lihat ada orang Papua kerja di kafe ini,” kata Yanlani.
Beberapa hari kemudian, Yanlani bergabung dengan tim Anomali untuk coffee cupping, uji rasa empat sampel kopi secara buta. Artinya, identitas asal setiap sampel baru diketahui setelah cupping selesai. Salah satu kopi yang diuji rasa adalah kopi dari kampung halamannya sendiri, Wamena, Papua. Ini pengalaman pertama Yanlani.

”Saya sudah tahu yang mana kopi saya (kopi wamena) sejak sebelum diseduh. Aromanya beda dari yang lain.” kata Yanlani seusai sesi cupping.

Sepekan sebelumnya, Irvan Helmi, salah satu pendiri Anomali Coffee, berkunjung ke Wamena, Papua. Di sana ia membeli sampel kopi beras (green beans) dari petani kopi Maksimus Lani (64), ayah dari Yanlani.

Ketika Irvan di Wamena, Yanlani masih magang di sebuah perkebunan kopi di Gunung Puntang, Jawa Barat. Selama hampir sebulan di sana, ia belajar praktik pertanian yang baik. Mulai dari pembibitan, panen, penanganan setelah panen seperti bermacam cara fermentasi biji kopi, pengeringannya, hingga menjadi green beans siap kemas.

Kini, proses belajarnya berlanjut di Anomali. Yanlani belajar membuat minuman kopi seperti cappuccino, caffè latte, dan americano. Dengan belajar dari kebun hingga di balik meja bar kedai kopi, ia menjadi lebih paham seperti apa perjalanan biji-biji kopi sejak dari kebun hingga menjadi minuman dalam cangkir di kafe nan mentereng.

Niat Yanlani kian bulat, ia harus menjadi pelaku bisnis kopi. Bukan pemain di hilir, melainkan di hulu, yakni sebagai petani kopi. Seperti sang ayah. Ia pun makin menyadari, kopi wamena di kafe-kafe di Jakarta ternyata begitu disukai dan dicari-cari penggemar kopi. Yanlani bangga.

”Berarti kopi wamena juga mantap. Saya bangga sekali,” kata Yanlani, yang dipanggil ”pace” selama di Anomali. Istilah dari bahasa Papua yang kurang lebih berarti ”bro”.


Penggalan artikel di atas telah terbit di Harian Kompas Minggu 28 Januari 2018 Foto dok. Kompas.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia