Jembatan Holtekamp Bantu Penyebaran Penduduk Jayapura

Mar 28, 2018

Jakarta, 28 Maret 2018-- Jembatan Holtekamp bakal mempercantik pemandangan Teluk Youtefa. Jembatan berwarna merah yang membentang sepanjang 112,50 meter di Distrik Jayapura Selatan ini bakal menghubungkan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom hingga ke wilayah perbatasan Papua Nugini.

Jembatan Holtekamp mulai dipasang salah satu sisinya pada Rabu, 21 Februari 2018, walaupun ada perintah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menghentikan sementara seluruh pekerjaan jembatan dan terowongan di Indonesia yang dilakukan di atas ketinggian.

Tak tanggung-tanggung, proses pengangkatan kerangka dengan berat 2.000 ton menghadirkan para profesor dan ahli dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan ahli checking jembatan dan terowongan dari BPPT yang masuk dalam Tim Komite Keselamatan Kerja PUPR.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN/BPJN) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komite Keselamatan Kerja PUPR, Yudha Handita Pandjiriawan menyebutkan pengangkatan salah satu sisi bentangan Jembatan Holtekamp telah mendapatkan izin Menteri PUPR.

Setelah dicek dari segala sisi, misalnya apakah desain jembatan yang sudah disetujui menteri, atau apakah kondisi jembatan masih sama saat dikirim dari Surabaya ke Jayapura, dan lain sebagainya.

"Hasil pengecekan itulah, salah satu sisi Jembatan Holtekamp dapat diangkat. Proses pengangkatan membutuhkan waktu 3-5 jam, tergantung keadaan disekitarnya, apakah disesuaikan dengan cuaca di sekitarnya, kecepatan angin atau hujan atau kondisi alam lainnya. Tapi, saat ini semua berjalan lancar dan diharapkan dapat berjalan normal," kata Yudha.

Pengangkatan jembatan Holtekamp dilakukan dengan empat buah hidrolik yang masih-masing berjumlah 37 kabel dan diangkat dengan ketinggian 16 meter.

Kepala Balai Nasional Pembangunan Jalan dan Jembatan Wilayah Papua, Osman Hariyanto Marbun menjelaskan pengangkatan dan pemasangan satu sisi Jembatan Holtekamp merupakan tahapan pembangunan jembatan yang menjadi impian masyarakat Kota Jayapura dan Papua pada umumnya. Ini sekaligus menghubungkan Kota Jayapura dan perbatasan Negara Papua Nugini.

Secara teknik, Jembatan Holtekamp merupakan pertama di Indonesia bahkan di dunia yang perangkaian dilakukan oleh PT PAL. Selain itu, rekor kerangka jembatan pertama yang diangkut secara utuh dengan berat 2000 ton dan panjang 112,5 mater dari Surabaya ke Kota Jayapura dengan jarak tempuh 3200 kilometer, tercipta.

"Rangka baja pelengkung jembatan dikirim dan diangkut dengan kapal LCT/tongkang dari Surabaya ke Jayapura, menjadi inovasi pertama bidang kerangka jembatan di Indonesia," kata Osman.

Osman menambahkan latar belakang dibangunnya jembatan, sebagai terobosan penyebaran penduduk di Kota Jayapura yang diarahkan ke Koya. Dengan jembatan inilah, jarak tempuh dari pusat Kota Jayapura ke Koya dapat dipersingkat.

"Saat ini lahan pemukiman penduduk sudah padat dan pemerintah menghendaki pemukiman di Kota Jayapura dikembangkan ke arah Koya yang berdekatan dengan perbatasan Negara Papua Nugini," jelasnya.

Jembatan Holtekamp juga ingin mementahkan anggapan banyak pihak yang menganggap Papua sebagai daerah terbelakang dan tertinggal di Indonesia. Berdirinya Jembatan Holtekamp juga dijadikan sebagai sarana pendukung PON 2020, di mana Papua sebagai tuan rumah dalam pelaksanaannya.

"Jembatan ini mampu membuktikan konstruksi jembatan dari baja dengan inovasi baru berteknologi tinggi untuk Provinsi Papua yang pengerjaannya dilakukan oleh PT.Pembangunan Perumahan (PP), PT. Hutama Karya (HK) dan PT. Ninda Karya (NK)," kata Osman.

Jembatan Holtekamp yang dibangun sejak 2016 dengan dana sharing dari APBN, APBD Kota Jayapura dan APBD Provinsi Papua akan menjadi destinasi wisata baru bagi Papua.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia