/ kamarbaca

Judith J Dipodiputro Dipercaya Kembalikan Kejayaan Perum PFN

POKJA PAPUA - Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno menunjuk Judith Jubilina Navarro Dipodiputro sebagai Direktur Utama Perum Perusahaan Film Negara (PFN). Surat Keputusan (SK) diberikan oleh Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis, Kementerian BUMN, Hambra Samal, di Jakarta, Rabu (7/8).

Judith, mengisi posisi Direktur Utama PFN menggantikan Mohamad Abduh Aziz yang meninggal dunia. Sebelum menempati posisi ini, Judith adalah Direktur Komersial Perum Bulog, sejak Oktober 2018 lalu.

Ia juga pernah menjabat Staf Khusus II Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno yang secara khusus untuk memantau dan mengevaluasi kebijakan inisiatif strategis BUMN, sinkronisasinya dengan program prioritas pembangunan nasional serta pelaksanaannya di lapangan. Delapan bulan ia bertugas sebagai staf khusus itu.

Sebagai staf khusus menteri, ia terbilang punya pengalaman panjang. Tahun 1992-1994, Judith juga menjadi staf khusus Menteri Negara Pengelolaan Aparatur Negara; 1994-1996 jadi staf khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup. Ia juga pernah menjadi staf ahli Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (2001-2007).

Ketika Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) membentuk Rumah Transisi usai pemilu tahun 2014, Judith dipercaya menjadi Ketua Pokja Papua. Tugasnya adalah mengadvokasi dan mendampingi suku-suku asli Papua dan Papua Barat agar lebih terakses dengan program-program pemerintah. Sedangkan selama masa kampanye, ia ikut mendirikan organ relawan Bravo-5 yang menggalang relawan industri MIGAS, relawan atlet dan komunitas olahraga.

Judith lahir di Praha, Republik Ceko, 12 September 1964. Dari sejak kecil, ia suka mengikuti berbagai kegiatan sosial-kemanusiaan. Ia memulai karirnya di bidang media dan jurnalistik tahun 1983-1995. Sempat menjadi Pemimpin Redaksi Daily Executive Economic Digest selama tiga tahun. Ia juga sempat bergabung dengan Standard Chartered Bank.

Tahun 1988, Judith terlibat diplomasi publik ketika ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif PPIP, sebuah organisasi yang didirikan di bawah perlindungan Kementerian Luar Negeri oleh Francisco Xavier do Amaral, Lopes da Cruz, E.M. Tomodok dan Josef Muskita.

Lembaga ini berupaya menggalang dukungan masyarakat di Portugal terhadap posisi Indonesia dalam upaya penyelesaian masalah Propinsi Timor Timur (kini Timor Leste). Ia aktif dalam Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Portugal sejak saat itu. Judith adalah pendukung Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) dan ikut mempromosikan adanya desentralisasi pemerintahan sejak sebelum era reformasi.

Judith juga pernah bergabung di Total E&P Indonesie 2007 (sekarang PT Pertamina Hulu Mahakam) sebagai Vice President Corporate Communication, Government Relations and CSR.

PFN Kembali
Perum PFN adalah salah satu BUMN yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Pada tahun 1934, Albert Balink, orang Belanda, mendirikan perusahaan film dengan nama Java Pacific Film. Ia berkembang dengan baik dan menjadi perusahan film tersohor pada masanya. Perusahaan ini kemudian memilih focus pada pembuatan film-film dokumenter dan cerita sejak tahun 1936, dan berubah nama menjadi *Algemeene Nederlands Indiesche Film (ANIF).
PFN

Perusahaan milik Albert ini kemudian diambil oleh Jepang dengan seluruh asetnya tahun 1942. Namanya diganti menjadi Nippon ii Eiga Sha di bawah pengawasan Sendenbu. Dengan perusahaan ini, Jepang menjadikannya sebagai alat propaganda politik. Media kampanye tentang kekuatan Jepang sebagai pelindung Asia.
Tak lama di tangan Jepang. Pada 6 oktober 1945, setelah Indonesia merdeka, ia diambil alih negara dan mengubah namanya menjadi Berita Film Indonesia (BFI). Lima tahun kemudian, namanya dibaptis ulang melalui Perusahaan Film Negara (PFN) dan nama itu masih digunakan hingga saat ini.

Pada tahun 1970-1980-an, PFN pernah menikmati masa jayanya. PFN inilah yang memproduksi film “Si Unyil” dan film “Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI”. Namun, 20-an tahun belakangan nama PFN sebagai rumah produksi film nyaris hilang. Kini, PFN kembali memproduksi filmnya setelah puluhan tahun vakum. Ia kembali dengan film “Kuambil Lagi Hatiku” pada awal tahun 2019 ini.