Kementerian BUMN Larang Penggunaan Bahan dari Burung Cenderawasih

Jakarta, 13 Agustus 2018 - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui surat No: S-132S.MBU/08/2018, pada tanggal 6 Agustus 2018 melarang semua BUMN untuk memakai perhiasan, asessoris, cinderamata yang berbahan dari Burung Cenderawasih (Paradiseae spp) dan bagian-bagian dari satwa yang dilindungi untuk mencegah terjadinya perburuan dan perdagangan illegal.

Hal tersebut sebagai tindaklanjut dari adanya surat edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor : SE.4/Menlhk/KSDAE/KSA.2/5/2018 tanggal 11 Juli 2018 kepada Menteri BUMN tentang Upaya Pelestarian Burung Cenderawasih (Paradiseae spp) Sebagai Satwa Liar Dilindungi Undang-Undang.

Kementerian BUMN menegaskan pemanfaatan satwa liar dilindungi undang-undang termasuk burung Cenderawasih (Paradiseae spp), dapat dimungkinkan dengan mekanisme izin penangkaran sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-11/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar, serta melalui lembaga konservasi yang diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.32/Menhut-11/2012 tentang Lembaga Konservasi. Surat tersebut sudah diteruskan ke seluruh perusahaan BUMN seluruh Indonesia.

Burung Cenderawasih banyak ditemukan di tanah Papua. Burung ini memiliki daerah penyebaran di hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan, terutama Papua bagian selatan. Ia adalah jenis burung poligami, di mana burung jantan mampu memikat pasangannya dengan ritual tarian yang menarik dengan memamerkan bulunya yang indah dan menawan.

Burung ini pemakan buah dan seranggga. Tak heran ia hidup di hutan belantara. Selain warna bulunya yang unik dan beragam, burung Cendrawasih memiliki ekor yang unik dan panjang dengan dua buah tali berwarna hitam. Bird of paradise, banyak orang menyebutnya di luar negeri. Tak heran ia dijadikan maskot Papua. Konon ia jarang mendarat di tanah, hanya hinggap dari dahan ke dehan pohon.