/ Ekonomi

Kopi Lembah Kamu dan Baliem Mulai Hijau Kembali

Dogiyai – Kopi arabika dari Lembah Kamu dan Lembah Baliem adalah kopi dataran tinggi. Di daerah ini kopi tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 meter dari permukaan laut. Kopi di kedua lembah itu, banyak yang sudah berusia tua. Ditanam sekitar tahun 1960-an setelah dirintis oleh misionaris Katholik dan Kristen.

Namun, banyak di antaranya hanya tinggal puing dan akar karena ditebang pemiliknya. Ditebang bukan karena tidak produktif, tidak berbuah. Kopi ditebang dan dibakar karena tidak ada yang membeli biji kopi dari petani. Karenanya, kopi dianggap tidak berguna, tidak memiliki nilai ekonomis.

Ketiadaan pembeli bukan karena rasa kopi kurang baik. Bukan karena produksinya sedikit. Tidak! Sebaliknya, karena pembangunan Indonesia yang tidak merata. Daerah penghasil kopi sulit dijangkau. Miskin infrastruktur, sehingga tata niaga kopi tidak terbangun. Biaya transportasi terlalu tinggi.

Akses untuk mencapai Dogiyai, di Lembah Kamu wilayah adat Mee Pago, misalnya, tujuh jam perjalanan darat setelah jalan raya bisa tembus dengan kondisi yang bagus saat ini dari Kota Nabire. Di waktu lalu, harus menggunakan pesawat terbang kecil karena akses jalan raya tidak tersambung. Apalagi Deiyai dan Paniai yang lebih ke pelosok hutan. Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut kopi dari daerah itu? Demikian juga halnya di Lembah Baliem wilayah adat La Pago.

Sekarang, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) giat membangun infrastruktur di Papua. Jalan, jembatan, pelabuhan dibangun. Tanaman kopi di dua lembah itu serasa mendapat angin segar untuk bangkit setelah lama terlantar. Pembeli kopi sudah mulai masuk ke wilayah itu. Artinya, potensi kopi ke depan cukup cerah

Aroma Rempah dan Coklat

Menurut sejumlah penikmat kopi, kekhasan kopinya adalah aroma kacang panggang yang gurih, seakan-akan ada rempah dan coklat sekaligus di dalamnya. Selain itu masih ada legit karamelnya. “Khas dan unik di langit-langit. Semua daerah, kopinya memang khas dan punya keunggulan sendiri,” kata Ayi Sutedje dari Sustainable Coffe Plaform Indonesia (SCOPI) ketika memberi pelatihan tentang buhdidaya dan paca panen kopi di Dogiyai, Papua beberapa waktu lalu.

Karakter kopi dari dua lembah ini sangat kuat dan kental kerena termasuk golongan kopi organic, tumbuh alami saja, tidak diintervensi dengan obat-obatan apapun. Kopi juga dilindung oleh tanaman pelindung yang tumbuh alamiah saja. Tidak terjadi perebutan makanan yang sengit dalam tanah.

Kopinya sangat subur. Kalau di tempat lain kopi arabika hanya cabang dua, di sini ada yang sampai empat. Cabang tiga saja sudah luar biasa loh,” kata Eko Mardiono dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao PT Riset Perkebunan Nusantara (Puslitkoka PT RPN).

Kopinya juga tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah. Karena itu, kopi Wamena dari Lembah Baliem dan Kopi Manonemani dari Lembah Kamu, cocok untuk semua golongan usia. Tidak ada efek pestisida di dalamnya. “Ini bisa digolongkan kopi asli Papua. Kopi lokal karena tidak tercampur cengan kopi dari tempat lain. Ini yang harus dipertahankan karena nanti nilai ekonomisnya bisa lebih tinggi,” tambah Eko Mardiono.

Hal ini pula yang mendorong Pokja Papua bersama Bank Mandiri tertarik untuk mengembangkan kembali budidaya kopi di Lembah Baliem dan Lembah Kamu melalui sejumlah pelatihan kepada petani kopi. Kepala Regional Pokja Papua, Habel H.N. Sawaki, mengatakan hingga saat ini sudah tiga kali pelatihan kopi oleh Pokja Papua dan Bank Mandiri. Pelatih berasal dari SCOPI dan Puslitkoka PT RPN dan juga pegiat kopi dari institusi lain.

“Ada perkembangan yang positif dari tiga kali pelatihan ini. Petani mau tanam kopi lagi setelah lama mereka tinggalkan. Kalau terus difasilitasi, mereka diyakinkan, bahwa pembeli kopi mereka pasti ada, saya pikir mereka akan kerja dengan baik,” kata Habel.

Lahan untuk menanam kopi sangat luas, dan semuanya masuk dalam lahan adat milik petani setempat. Di wilayah adat Meepago daerah penghasil kopi adalah Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Dogiyai. Sementara wilayah adat La Pago, daerah penghasil kopi adalah Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Pengunungan Bintang. Ribuan bibit kopi telah ditanam oleh petani di daerah tersebut dan sekarang sedang tumbuh hijau untuk melanjutkan tanaman kopi yang sudah tua. “Empat-lima tahun lagi kalau semua sukses, ini adalah daerah penghasil kopi yang besar,” kata Habel.

Beri Pemahaman

Namun, pada saat bersamaan pemerintah, terutama pemerintah daerah harus memberi pemahaman kepada petani bahwa kehidupan ekonomi mereka ditentukan oleh kerja keras mereka sendiri. Pemerintah hanya memfasilitasi pelatihan, pembinaan, pendampingan, bantuan peralatan kerja, bangun infrastruktur dan sebagainya. “Pemerintah atau siapapun tidak datang ke Papua ini untuk membagi-bagi uang,” ujarnya.

Ada kekurangan yang cukup berpengaruh pada petani di Papua umumnya saat ini, yakni mereka merasa lahan kerjaan mereka seperti “dipermainkan” oleh oknum pemerintah daerah. Petani yang bekerja, namun oknum pemerintah daerah membuat laporan seakan itu adalah hasil kerja pemerintah daerah. Hal itulah yang membuat petani enggan mengikuti program kerja pemerintah.

Sedap dan nikmatnya meneguk kopi Papua mesti diusahakan, dihasilkan dan dinikmati hasilnya oleh orang Papua. Ingat bahwa kopi kini menjadi sangat strategis karena mempunyai penikmat yang sangat beragam di seluruh dunia. Sekarang adalah era minum kopi, nongkrong asik, wajib ditemani kopi di sudut manapun. Di kota-kota kabupaten di Papua kini tumbuh kedai-kedai kopi. “Ini peluang yang harus ditangkap oleh daerah penghasil kopi,” tambah Habel.

Ia yakin, kampanye #banggamenyeduhKOPiPAPUA yang dilakukan oleh Pokja Papua perlahan-lahan akan mendapat hasil yang positif. Sekarang kopi dari Lembah Baliem dan Lembah Kamu mulai hijau. Tak butuh waktu lama, jika bantuan bibit, cara menanam, memelihara, memangkas, memetik, mengolah pasca panen dan budidaya terus dilakukan, Papua wilayah tengah akan menjadi raja kopi di masa mendatang. (Inno Jemabut)

(Tulian ini sudah ditayangkan di www.sinarharapan.net)