/ Politik

Marthen, Pahlawan Polisi dan Pendidik dari Doromena

POKJA PAPUA – Ia seorang polisi Hindia Belanda yang pernah mengenyam pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Usai menjalani masa pendidikan, ia ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda menjadi Wakil Kepala Polisi Jaga di Kamp Tahanan Politik Tanah Merah, Boven Digul.

Penampilannya tegas dan lugas. Namun, sangat humanis dalam bergaul dan luwes berkomunikasi dengan orang lain. Di Kamp Tahanan Politik Tanah Merah, ia menjadi atasan untuk 31 orang polisi lainnya. Lahir di Doromena, Papua, 14 Maret 1912. Orang tuanya, Indey, menamai anak laki-laki itu, Marthen Indey.

Sejatinya, sebagai seorang polisi Hindia Belanda, Marthen harus bekerja untuk kepentingan Belanda. Namun, perjumpaannya dengan sejumlah tokoh politik Indonesia yang ditahan di Boven Digul menjadikannya sebagai seorang nasionalis Indonesia sejati. Sikap nasionalisnya itu mendorong Marthen memimpin 31 anak buahnya untuk menangkap orang-orang Belanda yang bertugas di Boven Digul.

Sayang, rencana itu gagal karena dilaporkan oleh salah seorang anak buahnya yang membelot. Belanda sangat gusar mengingat Marthen adalah pimpinan yang dipercaya. Ia pun ditahan dan diasingkan ke Australia. Setelah tiga tahun di Australia, tahun 1944, Mathen kembali bersama pasukan Sekutu dari Australia dan mendapat tugas melatih anggota Batalyon Papua yang dibentuk Tentara Sekutu untuk menghadapi Jepang.

Harapannya, kecintaan Marthen pada Indonesia luntur, luluh oleh kehidupan di Australia. Didukung pula, Jepang adalah orang baru di Boven Digul. Marthen adalah seorang pemimpin yang diharapkan bisa memimpin pasukan melawan Jepang.

Namun, Marthen tetap pada pendiriannya untuk menjadikan Belanda sebagai musuh utamanya. Ia kembali secara diam-diam bekerja untuk menggulingkan Belanda bersama tahanan Tanah Merah. Namun tidak juga menjadi Jepang sebagai temannya. Sayang sungguh sayang. Upaya kedua ini mengalami nasib yang sama. Marthen Indey dan para tahanan Tanah Merah lagi-lagi gagal.

Rencananya untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Irian berhasil dijejak Belanda. Rencana pun gagal. Tapi, pejuang tak pernah menyerah, apalagi kehilangan harapan dan semangat. Marthen malah lebih tegar dan kokoh.

Marthen memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan Irian Barat (Papua) dari politik pecah belah Belanda. Ketika menjadi Anggota Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian berubah menjadi Partai Indonesia Merdeka (PIM) pada tahun 1946, Marthen memimpin 12 kepala suku untuk melakukan aksi protes terhadap Belanda yang menginginkan Papua terpisah dari Indonesia. Ia mengirim nota protes terhadap Gubernur Hindia Belanda, HJ Van Mook. KIM adalah organisasi yang dipimpin oleh Frans Kaisiepo.

Kali ini, Marthen tak lagi melakukan aksinya secara diam-diam. Belanda makin kesal. Akibatnya, pergerakan Marthen banyak diawasi oleh militer Belanda hingga akhirnya ditangkap tahun 1950 untuk dipenjara di Boven Digul selama tiga tahun.

Bolak-balik ditangkap dan ditahan tak sedikitpun menciutkan nyali Marthen. Ia bersama E.Y. Bonay adalah orang yang hadir di New York, USA tahun 1962 untuk meminta kepada di PBB agar masa kerja UNTEA di Papua dipersingkat dan Irian Jaya segara gabung dengan NKRI.

Lelaki dari Doromena inilah yang menyampaikan Piagam Kota Baru kepada Presiden Soekarno yang antara antara lain berisi janji setia kepada NKRI. Mayor Trituler Marthen Indey. Itulah pangkat dinas terakhirnya sebelum kembali ke pangkuan Ilahi, 17 Juli 1986. Ia memiliki dua orang anak yakni Fineka Soroway Indey, Frans Marcelino Charles Engelberth Indey.

Pendidik
Nah, Marthen sebetulnya tak hanya berprofesi sebagai polisi. Ia dikenal sebagai pengajar dan pendidik yang baik bagi anak-anak di Boven Digul. Perkenalannya dengan Soegoro Atmoprasojo, seorang tahanan yang adalah pemuka Perguruan Taman Siswa, selama menjaga tahanan tak hanya membangkitkan jiwa patriotik terhadap NKRI, tetapi juga kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

Apalagi setelah tiga tahun diasingkan di Australia, Marthen makin menyadari arti penting pendidikan bagi anak-anak. Pada saat itu juga, Soegoro sedang dipercaya untuk memimpin Sekolah Bestuur (Pamong Praja) di Kampung Harapan, Boven Digul. Soegoro dan Marthen melatih masyarakat lagu kebangsaan Indonesia Raya. Marthen ingin agar anak-anak Papua mendapat pendidikan yang sama seperti di daerah lain.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdakaan Indonesia, 17 Agustus 1945, Marthen Indey dan Soegoro tidak langsung mengetahuinya. Keterbatasan alat komunikasi saat itu membuat mereka tak mendapat informasi sama sekali. Kabar Indonesia telah merdeka baru dikatahui bulan-bulan setelahnya. Itupun karena ada pamflet yang disebar di Autralia dan dibawa ke Merauke oleh beberapa tahanan politik.
RS-Marthen-Indey

Melalui SK Presiden No.077 /TK/ 1993 tgl. 14 September 1993, Marthen Indey ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Ketetapan yang sama juga untuk dua Pahlawan Nasional Indonesia lainnya dari Papua, yakni Frans Kaisiepo dan Silas Papare. Nama Marthen Indey juga diabadikan sebagai nama Rumah Sakit TNI AD di Jayapura, Propinsi Papua.
dari berbagai sumber