/ Ekonomi

Melirik Pesona Wisata Tambrauw

Tambrauw – Kabupaten Tambrauw. Mungkin tidak banyak yang mengenal kabupaten ini. Salah satu kabupaten di Papua Barat ini masih kalah pamor dengan Raja Ampat. Dibandingkan dengan Raja Ampat? Ya!

Keduanya terletak tak berjauhan. Sama-sama di bagian kepala burung Papua. Memiliki keindahan alam yang luar bisa menarik dan mempesona. Hanya saja, Tambrauw belum banyak dilirik oleh wisatawan. Itu saja bedanya dengan Raja Ampat.

Potensi wisata di Tambrauw sangat lengkap. Wisata alam, pegunungan, pesisir hingga bahari. Di sini teradapat pantai khusus tempat pengamatan penyu belimbing atau Dermochelys coriacea bertelur. Namanya Pantai Jamursba Medi. Ini tempat langka. Belum tau kan? Telur penyu di sini adalah yang terbesar di dunia.

Sangat banyak potensi wisata lain. Ada lembah Bukit Teletabis, lengkap dengan kolam air panas alami di balik bukit itu. Kolam ini memiliki tiga sumber mata air yang mengandung belerang dan sangat cocok untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Ada juga air terjun tujuh tingkat, Anenderat di Distrik Miyah. Air terjun ini memiliki panorama alam yang indah, udara segar dan sejuk.

Tak salah kalau Kementerian Pariwisata kini mencoba mengembangkan potensi wisata yang ada di kabupaten ini. “Tambrauw merupakan destinasi press tour pertama kami (Kementerian Pariwisata –red) pada 2019. Alasan kami langsung memilih Tambrauw sebagai destinasi pertama karena saya kagum dengan komitmen bupatinya untuk memajukan pariwisata Tambrauw,” ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, Guntur Sakti, di Pantai Sausapor, Papua Barat beberapa waktu lalu.

Guntur Sakti menjelaskan, sebagian besar pendukung kemajuan sektor pariwisata karena komitmen CEO-nya (kepala daerah). “Bisa dibilang 50% kemajuan pariwisata di daerah dikarenakan komitmen dari CEO-nya. Saya dibuat kagum karena sepanjang 680 km jalan yang dibangun di Kabupaten Tambrauw untuk membuka aksesibiltas merupakan dana APBD,” kata Guntur.

Kabupaten Tambrauw merupakan kabupaten pemekaran tahun 2008 lalu. Tanahnya subur, terutama di wilayah Distrik Fef, sangat potensial untuk kembangkan sektor pertanian. Fef adalah kota kecil pusat pemerintahannya. Kabupaten ini memili luas 1,160 juta hektar dengan jumlah penduduk sekitar 29.000 pada tahun 2017 lalu.

Dari luas lahan itu, 80% adalah hutan lindung dan konservasi. Sebesar 20% sisanya bisa dikelola. Namun, pemerintah daerah sedang memproses agar hutan lindung dan konservasi dikurangi menjadi 60% dan sisanya bisa dikelola terutama untuk sektor pertanian. Hal itu untuk mendukung proses pembangunan yang sedang gencar dilakukan di daerah tersebut.

Bupati Tambrauw, Gabriel Asem, mengatakan demi mempercepat pertumbuhan pariwisata di daerahnya, pembangunan infrastruktur memang menjadi prioritas. “Yang kami lakukan adalah membangun infrastruktur dulu seperti jalan dan jembatan sebagai akses menuju destinasi. Saat ini bandara di Sausapor sudah siap dengan jalan akses menuju bandara selebar 50 meter. Ke depannya, kita akan aspal jalan menuju bandara, lalu menuju kabupaten pusat pemerintahan yang baru di Fef,” kata Gabriel.

Gabriel menjelaskan, aksesibilitas memasuki Tambrauw, dapat melalui dua titik, yakni Manokwari dan Sorong. Karena itu, wisatawan bisa masuk ke wilayahnya melalui Manokwari atau Sorong menggunakan direct flight dari Jakarta atau Makassar. Kemudian dilanjutkan menggunakan moda transportasi darat, laut, atau udara menuju Tambrauw.

Di Tambrauw saat ini terdapat 29 distrik (kecamatan) dan 216 desa. Selama 7 tahun pemerintahan, kata Gabriel, pihaknya telah menghabiskan dana hingga Rp 10 miliar untuk mempersiapkan segala hal yang dapat mendukung promosi sektor pariwisata mulai dari infrastruktur, jalan, jembatan, listrik, telekomunikasi, air bersih, hingga pembangunan cottage.

Pada tahun 2019, Pemda Kabupaten Tambrauw pun mulai mengundang investor untuk berinvestasi, seperti Papua Diving dan Gajah Tunggal Group.

Sarana telekomunikasi dan internet di Tambrauw memang masih cukup sulit. Hal itu diakui oleh Guntur Sakti. Padahal untuk menjadi destinasi wisata unggulan yang online, eksis dan viral di media sosial sangat dibutuhkan. “Konektivitas diperlukan agar destinasi tidak offline. Masa depan Tambrauw sebagai destinasi pariwisata, salah satunya dengan terbukanya destinasi tambrauw di dunia maya,” kata Guntur.
**
Kabupaten Konservasi
teletubies

Pariwisata Tambrauw bisa dibagi dua, yakni Blue Wonder dan Green Wonder. Blue Wonder merupakan potensi pariwisata yang berada di sekitar pesisir pantai meliputi peninggalan tank perang dunia ke II, habitat burung cendrawasih, pulau dua, serta pantai Jeen Womom yang menjadi habitat terbesar penyu belimbing.

Sementara itu, Green Wonder merupakan potensi pariwisata di sekitar pegunungan yang meliputi Bukit Sontiri dengan fenomena ribuan jaring laba-laba di pagi hari, mata air panas War Aremi, pemandangan matahari terbit di distrik Miyah, panorama air terjun Anenderat, serta pengamatan Cendrawasih dan satwa lainnya.

Kekayaan flora dan fauna tersebut menjadikan Tambrauw sebagai kabupaten konservasi. Istilah Kabupaten Konservasi sendiri mulai didengungkan oleh Gabriel Asem, saat terpilih menjadi Bupati Tambrauw, 2011 lalu.

Kini, Bupati Gabriel meluncurkan Pin Tambrauw untuk pemeliharaan lingkungan kawasan strategis di daerahnya itu. Setiap wisatawan yang ingin mengunjungi Tambrauw harus membeli Pin dan dikenakan biaya tarif masuk. Wisatawan domestik dikenai tarif sebesar Rp 200.000, sementara wisatawan asing membayar tarif sebesar Rp 400.000. Pin ini dapat dibeli di bandara Domine Eduard Osok, Sorong Papua Barat.

"Tahun 2019 targetnya 5000 wisatawan. Atraksi sudah ada tapi akses dan amenitas belum ada. Amenitas pelan-pelan, mau undang investasi, kata Gabriel.
**