Mencari Harta yang Hilang

DOGIYAI – Kamis, 23 November 2018, Germanus Gouw menunjuk lahannya yang habis dilalap api dua minggu sebelumnya. Lahan itu tampak gosong dari kejauhan. Di sekitarnya terlihat rumput-rumputan dengan beberapa pohon berdiri terpencar-pencar. Lahan itu, katanya, terbakar karena ulah orang mabuk yang membuang putung rokok di semak-semak kering.

“Itu tanah saya. Saya ketua adat di sini, di Manonemani. Sekarang saya mau tanam kopi,” katanya. Dulu, tahun 1971, saat ia kelas 4 SD, Germanus pernah memetik kopi dilereng bukit sebelah barat Lembah Kamu itu bersama orang tuanya.

Hasilnya cukup banyak. Harga kopi cukup tinggi untuk ukuran saat itu. Orang tuanya bisa membiayai Germanus ke sekolah pertanian dari hasil kopi. Selain tanah di wilayah adat Mee Pago, Papua Tengah yang subur, juga lahan kebun kopinya cukup luas.

“Tapi, itu dulu anak. Kopinya semua sudah saya potong. Sekarang baru mau tanam lagi,” katanya. Menurutnya, menanam kopi di wilayah adat Mee Pago sudah sejak lama.
Martina Iyai, petani kopi di Mapia, mengatakan pada tahun 1985, produksi kopi di kampungnya sangat banyak. Namun, lambat laun tanaman kopi menghilang karena dipotong oleh para pemiliknya. Tahun 1992, ia terakhir memetik kopi dalam jumlah banyak.

Setelahnya selalu susut. Tahun 2018 ia hanya bisa menghasilkan 150 kg green bean. “Kopi tidak ada harganya makanya dipotong. Tidak ada yang beli. Sekarang-sekarang ini baru ada lagi harga dan ada yang beli di pastoran (gereja katholik-red),” kata Martina saat mengikuti pelatihan kopi yang diselenggarakan Pokja Papua bersama Bank Mandiri di Dogiyai beberapa waktu lalu.

Di kebun kopi Pieter Gouw, tempat pelatihan dilaksanakan terdapat puluhan pohon kopi arabika berusia tua. Ranting-ranting kopi itu terlihat beberapa kali mengalami pemangkasan seadanya agar tidak terus meninggi. “Yaa, ini mungkin usianya sudah 40-an tahun. Ini sudah besar begini,” kata Pieter. Pieter mengaku kopi itu ditanam saat ia masih anak-anak dan sekarang usia Pieter lebih dari 60 tahun. “Usia sudah banyak, mau 70 tahun sudah,” ujarnya.

Tak Dipelihara
Pieter mengaku kopinya tak banyak diurus sehingga hasilnya tak tentu setiap tahun. Tahun 2018 ia mendapat 68 kg dan dijual dengan harga sekitar Rp 80.000/kg. Tak jarang kopi tak dipetik sama sekali. Selain karena tidak ada pembeli, proses pengolahan kopi juga melelahkan bagi petani kopi di Mee Pago. Kulit kopi dikupas dengan tangan satu persatu, baik untuk mengeluarkan kulit merah maupun kulit putih untuk menghasilkan biji kopi (green bean).

“Kadang kita sampai mengantuk juga belum selesai. Kita sampai tidur dengan biji kopi masih di tangan. Kalau kupas kulit merah tidak sadar kita tidur dan besok pagi badan penuh biji dan kulit kopi,” kata Dorsea Wakey. Ia menunjukkan kuku tangannya yang melepuh karena setiap malam mengupas biji kopi.

Hal itu yang membuatnya engan serius menggarap lahan kopi. Lahan kopi istri Ignasius Tagi ini seluas 1,5 hektar. Sebanyak 200 pohon kopi di dalamnya sudah lama berbuah dan 100-an lainnya baru ditanam setahun lalu. “Tapi, kalau kupasnya susah, tidak ada pembeli. Itu sudah. Kita jadi tidak mau lagi,” katanya.

Igansius, pensiunan guru SD di Mapia, di tempat yang sama, mengatakan harga kopi di Mee Pago tak sebanding dengan beban kerja yang dilakukan petani. Jika ada petani yang memetik dan mengolah kopinya, hal itu lebih karena mengisi waktu santai di rumah. “Kadang sambil tunggu makan malam, kita kupas kopi sama anak dan cucu. Tapi kadang anak sama cucu lebih senang cari kuskus kalau malam,” ujarnya.

Mikrohidro Rusak
Petani-petani kopi berusia tua di Mee Pago mengaku kopi arabika maonemani dari Lembah Kamu dulunya dibeli oleh karyawan PT Freeport Indonesia. Namun, pembelian itu berhenti total sekitar tahun 1993.

Sejak pertengahan tahun 1970-an pengolahan kopi oleh petani cukup mudah karena menggunakan proses washing (pencucian) memanfaatkan PLTA mikrohidro yang dioperasikan oleh misionaris. Para misionaris tersebut mendirikan Yayasan P5 yang konsentrasi pada pengolahan produk pertanian, terutama kopi, bahkan hingga menjadi kopi bubuk.

“Mikrohidro itu selama empat jam dipakai untuk olah kopi. Tapi dia rusak. Begitu rusak, rusak semua sudah. Tidak ada lagi yang proses kopi. Freeport tidak mau beli,” kata Germanus. Sementara petani kopi tidak menemukan cara yang efektif untuk mengolah kopi selain menggunakan mesin listrik. Ketiadaan pembeli mengakibatkan petani kopi menebang pohon kopi mereka. Kopi kehilangan pamor sebagai sumber ekonomi bagi petani. Petani kopi Papua pun memasuki masa suram dan kelam.

Kini masa suram itu diakhiri. Kepala Regional Pokja Papua, Habel H.N. Sawaki, mengatakan pelatihan petani kopi oleh Pojka Papua dan Bank Mandiri betujuan mengakhir masa suram petani kopi di Tanah Papua. Potensi kopi di Lembah Kamu wilayah adat Mee Pago dan Lembah Baliem wilayah adat Lapago sangat bagus. “Sekarang pemerintah pusat memberi perhatian yang sangat tinggi kepada Papua. Nah, tinggal pemerintah daerah bagaimana meresponsnya,” kata Habel.

Di lingkup petani kopi, antusiasme untuk kembali mananam kopi sangat tinggi. Di Kabupaten Dogiyai, pemerintah daerah setempat menyiapkan setidaknya 150.000 koker (anakan) kopi pada tahun 2018. Hingga November 2018, 20.000 di antaranya sudah tersalurkan ke petani. Habel berharap pemerintah daerah terus mensosialisasikan dengan baik kepada petani tentang tanaman kopi. “Pembeli akan datang dengan sendirinya kalau kopi ada. Jangan lagi takut taka da yang beli, pasti terserap,” ujar Habel.

Germanus Gouw mengatakan, petani sebenarnya sadar dan paham kalau kopi adalah harta masyarakat adatnya. Namun, menjadi tidak berharga karena tidak terawat. “Saya ikut pelatihan kopi ini sudah yang kedua ini. Ini harta yang selama ini hilang. Saya senang dengan pelatihan ini. Tolong sediakan peralatannya,” katanya. (inno jemabut)

(Artikel ini sudah ditayangkan di www.sinarharapan.net**)