Mengembangkan Sagu, Membesarkan Papua

Mar 20, 2018

Jakarta, 20 Maret 2018-- Presiden Joko Widodo dalam sebuah sambutan perayaan Hari Kemerdekaan di Ruang Rapat Paripurna DPR/MPR RI pada Agustus tahun lalu, menyebut bahwa memajukan Papua merupakan salah satu cita-citanya sepanjang 5 tahun kepemimpinannya.
Rakyat Papua adalah rakyat yang kaya. Mereka dan alam adalah satu kesatuan. Salah satu kekayaan alam di hutan Papua yang mulai dilirik industri yaitu Sagu. Di sanalah 90% dari produksi sagu negeri ini dihasilkan dan menghidupi setidaknya 5,5 juta masyarakat Papua.

Di Papua, hutan sagu masih terhampar luas dan lebat. Meski beras sudah masuk hingga ke kota-kota besar, sagu sebagai bahan utama pembuat papeda, makanan pokok masyarakat, masih mendarah daging. Konon, satu batang sagu yang telah ditebang dapat disimpan menjadi cadangan makanan hingga 6 bulan.

Tanaman Asli Indonesia

Dengan luas hutan sagu hampir 85% dari total luasan areal sagu di Indonesia yang juga merupakan hutan sagu terluas di dunia, para pakar berharap sagu dapat menjadi kunci kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia bagian timur, khususnya Papua dan Papua Barat.

Indonesia memiliki lebih dari 90% luasan sagu di dunia, dengan 85%-nya terdapat di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Menurut Peneliti Utama di Pusat Teknologi Agroindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Bambang Hariyanto, pohon sagu atau sago palm (Metroxylon sagu) adalah tanaman asli Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat utama.

Bambang mengatakan, sagu juga dapat digunakan sebagai makanan sehat (rendah kadar glikemik), selain dapat dipakai untuk bioethanol, gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas, farmasi dan lainnya.

Di Indonesia, selain dikenal hidup dan berkembang di Papua, pohon sagu juga terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau dan Kepulauan Mentawai. Namun, sebagian besar pohon sagu terdapat di Papua dengan luasan lahan 1,20 juta hektar (ha).

Dalam peta sebaran sagu menurut situs resmi Kementerian Pertanian, disebutkan bahwa pohon sagu yang hidup di hutan alam mencapai 1,25 juta ha, dengan rincian 1,20 juta di Papua dan Papua Barat dan 50.000 ha di Maluku.

Sedangkan pohon sagu yang merupakan hasil semi budidaya (sengaja ditanam/semi cultivation) mencapai 158.000 ha, dengan rincian 34.000 ha di Papua dan Papua Barat, di Maluku 10.000 ha, di Sulawesi 30.000 ha, di Kalimantan 20.000 ha, di Sumatera 30.000 ha, di Kepulauan Riau 20.000 ha, dan di Kepulauan Mentawai 10.000 ha.

Sumber lain, yaitu Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), menyebutkan bahwa luas sagu dunia mencapai 6,5 juta ha. Dari luas lahan tersebut, Indonesia memililiki pohon sagu seluas 5,5 juta ha dan dari luas lahan tersebut yang berada di Papua dan Papua Barat mencapai 5,2 juta ha.

Seperti diketahui, pohon sagu tumbuh secara alami di hutan Papua dan apabila tidak dimanfaatkan akan mati dengan sendirinya dan potensi tepung sagunya akan terbuang percuma.

Menurut Bambang, masalah utama sulitnya pengembangan sagu di Papua adalah infrastruktur dan kelistrikan. Di Papua, warga kesulitan memasok sagu rakyat ke pabrik sagu besar dan pabrik sagu besar sulit untuk menyalurkan hasil produksinya keluar. Sebagai akibatnya, biaya logistik bisa mencapai 30% dari biaya produksi.

“Ada juga masalah sosial ekonomi, di mana pengolahan sagu di Papua terkena hak hutan ulayat. Artinya, masyarakat perlu mendapat kompensasi dalam setiap pengelolaannya. Untuk hal ini, para pakar berharap pemerintah dapat turut campur tangan melalui kebijakan agar dapat mempermudah pengembangan sagu di Papua,” ucap Bambang.

Meski demikian, sinyal Presiden Jokowi diyakini dapat memberikan secercah harapan bagi masyarakat Papua dan Papua Barat akan keseriusan komitmen pemerintah untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua dengan mengoptimalkan potensi sagu.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia