Pabrik Sagu Kebanggaan Negara di Kais

Perum Perhutani Sep 18, 2019

POKJA PAPUA - Perum Perhutani memiliki pabrik sagu di Distrik Kais, Sorong Selatan, Papua Barat. Pabrik ini dibangun sejak tahun 2013 dan mulai beroperasi dari tahun 2016 lalu. Pabrik itu diharapkan mampu mengolah 6.000 tual (batang sagu ukuran satu meter) dan mampu memproduksi hingga 100 ton sagu/hari.

Investasinya mencapai Rp 112 miliar. Dikerjakan oleh PT Barata. Ini adalah pabrik sagu terbesar di Indonesia. Hanya bisa disaingi pabrik sagu di Malaysia. Tapi, pabrik sagu di Kucing itu kapasitasnya lebih kecil.

Bayangkan milik Perum Perhutani ini, kapasitasnya 30.000 ton/tahun jika sudah total beroperasi. Letaknya di tepi Sungai Kais. Kalau harga sagu Rp 6.000/kg, seperti yang banyak dijual warga di Papua dan Papua Barat, artinya pabrik itu bisa produksi senilai Rp 180 miliar setahun. Itu perkiraan olahan sagu tradisional, yang lazim dibuat masyarakat biasa. Kalau hasil pabrik modern tentu beda.

Di Sorong Selatan, Perum Perhutani mendapat konsesi lahan sagu seluas 15.000 ha. Lahan itu dikelola bersama petani, warga setempat dalam wadah koperasi. Semua tual dari petani dijual ke pabrik itu. Satu tual dihargai sekitar Rp 12.000-15.000.

Dalam sehektar setidaknya bisa tumbuh pohon sagu ideal 100 pohon. Bisa saja lebih banyak tapi mungkin akan kurang maksimal hasilnya. Dari satu pohon sagu raja di Kais setidaknya bisa hasilkan sekitar hingga 900 kg sagu. Nah, seorang petani bisa saja memasok hingga 20 tual sehari. Artinya, sehari memiliki penghasilan Rp 240.000-300.000. Di Malaysia satu pohon sagu hanya bisa maksimal hasil 500 kg sagu.

Secara tradisional penduduk setempat hanya bisa mengolah satu hingga dua tual dalam waktu seminggu hingga dua minggu. Setelahnya baru menjual sendiri. Uang yang bisa dihasilkan sangat rendah. Sekitar Rp 150.000 jika hasil olahnya terjual semuanya.
Warga di Kais menggantungkan hidupnya pada hasil sagu. Sagu adalah sadaran hidup mereka. Sehari-hari adalah sagu. Dengan adanya pabrik sagu, mereka semakin antusias untuk memelihara dan mengembangkannya. Pabrik sagu membuat lingkungan hidup mereka yang diwariskan turun-temurun terjaga.

Pasar sagu sangat bagus. Permintaan sangat tinggi, tidak saja dalam negeri tetapi juga luar negeri. Namun, untuk kebutuhan dalam negeri saja masih kekurangan sekitar 1 juta ton/tahun. Sagu dari Papua dan Papua Barat banyak dimintai oleh penduduk di Jawa dan Sulawesi.
Sagu-Kais1 Sagu yang diolah masyarakat lokal
Keseluruhan potensi lahan sagu di Sorong Selatan mencapai sekitar 750.000 hektar. Sagu di daerah ini memiliki puluhan rumpun. Saripati dari semua rumpun itu sangat baik untuk dikonsumsi. Hal itu karena pohon sagu tumbuh bersamaan dengan kayu-kayu hutan dan tanaman-tanaman alami lainnya. Jadi, wajarlah kalau di Kais ada pabrik sagu terbesar se-Nusantara.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan pengoperasian pabrik tersebut menegaskan, apa yang dilakukan pemerintah adalah untuk menciptakan kedaulatan pangan nasional. Pangan lokal dengan kearifan lokal dalam mengolah dan menjaganya perlu dimunculkan karena potensinya sangat besar untuk dikembangkan. Secara khusus ia berharap pabrik tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat lokal, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kehidupan ekonomi.

Pabrik sagu itu memang diperkirakan bisa menyerap hingga 600 orang tenaga kerja. Bahkan bisa terus bertambah seiring perjalanan waktu jika perusahaan itu berjalan efektif dari waktu ke waktu.
KaisPasar Kais di pinggir jalan, sepi pembeli
Tantangan
Namun, ada sejumlah hal yang menjadi catatan setelah beroperasinya Pabrik Sagu Perum Perhutani ini. Pertama, perubahan gaya hidup masyarakat. Letak desa-desa di Distrik Kais Pantai terisolasi akibat infrastruktur yang kurang baik dan topografi alam. Sungai Kais adalah akses transportasi utama dulunya. Kehidupan masyarakat masih tergantung dari alam, menjadi petani sagu atau menjadi aparatur sipil negara (ASN). Tidak ada pilihan lain. Tidak banyak pergerakan ekonomi karena sangat sedikit uang beredar. Daya beli masyarakat sangat kecil. Hampir tidak ada satu pun warung/tempat orang berjualan di desa di Kais.

Namun, setelah pabrik beroperasi, secara sangat tiba-tiba masyarakat desa mulai mempunyai daya-beli dan dengan jumlah tinggi. Akses transportasi diperbaiki drastis oleh pemerintah. Dalam waktu singkat hadir toko tepung milik warga luar desa dan juga warung sembako. Masyarakat mulai belajar minum soda, membeli cat rambut, sampai bayipun dicat rambutnya jadi pirang. Jika tidak diantisipasi dengan baik, akan terjadi masalah sosial yang rumit di kemudian hari.
Sagu-Kais Presiden Joko Widodo ketika hendak meresmikan pabrik sagu milik Perum Perhutani di Kais, Sorong Selatan
Kedua, bersaing dengan swasta. Apa yang dilakukan Perum Perhutani adalah langkah tepat. Tidak ada yang terlambat. Sebum pabrik sagu ada, lebih dahulu sudah banyak perusahaan yang mendapat konsesi lahan dan sudah membabat hutan sagu di Sorong Selatan dan Papua Barat umumnya maupun Papua. Ada perusahaan perkebunan sawit, pertambangan, maupun pemegang hak pengelola hutan (HPL). Mereka membabat kayu habis-habisan untuk dibawa ke luar dan melumpuhkan lahan sagu yang perlu waktu lama untuk bisa tumbuh kembali.

Sebagai contoh, PT Freeport mengkapling lahan sekitar 2,6 juta hektar yang di dalamnya adalah lahan sagu. Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) kuasai lahan hingga 1,2 juta hektar. British Petroleum dan Jayanti Grub juga menguasai lahan berpotensi sagu hingga jutaan hektar. PT Putra Manunggal Perkasa yang menguasai lahan sawit ANJ di Robate, dataran Kais dan Kais Darat, menghanguskan tak kurang dari tujuh dusun sagu yang juga bagian dari tempat mencari makan penduduk pribumi secara turun-temurun. Dan masih banyak lagi. Warga diadu antara suku, yang bisa menimbulkan konflik horizontal.

Dengan adanya pabrik sagu dari Perum Perhutani diharapkan pemerintah tidak memberi celah sedikitpun kepada perusahaan swasta yang merusak hutan sagu. Pemerintah harus bisa memastikan keberlangsungan pabrik sagu ini tanpa harus dikuras lahannya oleh perusahaan swasta.

Warga Kais sangat menyadari kalau pabrik sagu bukan ekploitasi alam, tetapi melindungi dan memberi nilai tambah atas pekerjaan yang mereka geluti dari warisan nenek moyang mereka. Keberadaan pabrik secara penuh didukung oleh suku-suku asli. Buktinya Perhutani bisa membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Distrik Kais, Sorong Selatan dengan nama LMDH Bosiro. Ini adalah LMDH pertama yang bisa dibuat oleh Perhutani di luar Pulau Jawa. LHMD ini adalah jembatan komunikasi antara perusahaan dengan warga lokal, serta memiliki posisi tawar harga tual kepada pabrik sagu. Karena itu mereka membentuk wadah koperasi petani sagu.

Ketiga, pasokan energi. Kebutuhan energi di pabrik sagu itu minimal 1,5 megawatt. PLN sejak awal angkat tangan, tidak mampu. Industri sagu memang punya produk samping, yakni residu sagu yang bisa diolah menjadi biomassa. Namun, itu belum bisa jadi energi alternatif. Perum Perhutani telah bekerja sama dengan PT Energy Management Indonesia Persero (EMI) untuk PLT Biomassa sebesar 3 MW. Jika tidak terpakai semuanya, bisa dialirkan untuk kebutuhan lain di sekitar. Namun, tetap saja harus menjadi konsentrasi pemerintah ke depan.

Nah, di distrik penghasil sagu inilah Frederik Paulus Saimar. Siapakah Saimar?
Baca: /frederik-paulus-saimar-pejuang-yang-terabaikan/

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia