Penetapan Satu Harga Semen di Peguteng Papua Masih Didiskusikan

Jakarta, 11 April 2018-- Harga semen di wilayah Pegunungan Tengah Papua masih saja tinggi. Padahal Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengamanatkan tentang perlunya keadilan sosial bagi seluruh rakyat di Indonesia.

Presiden Jokowi dalam sebuah kunjungan ke Papua pada awal tahun 2017 menginginkan harga semen di seluruh Indonesia sama, dan tidak terkecuali di Papua. Meski hal itu tidak mudah direalisasikan untuk saat ini. Harga satu sak semen dengan berat 50 kilogram sekitar Rp 70 ribu, namun di daerah pedalaman Papua bisa mencapai Rp 1 juta atau bahkan lebih. Mahalnya ongkos logistik membuat harga semen di wilayah Indonesia paling timur tersebut menjadi sangat mahal.

Untuk mencari titik temu, Kementerian Perdagangan bersama Dinas Tenaga Kerja, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, menggelar diskusi terbatas tentang penetapan satu harga komoditi semen di seluruh wilayah Pegunungan Tengah Papua. Sejumlah opsi berdasarkan usulan rapat dihasilkan, namun belum bisa ditetapkan secepatnya.

Kepala bidang logistik, barang pokok dan barang penting badan pengkajian dan pengembangan perdagangan, Kementerian Perdagangan Indonesia, Rahmad Erland Danny, mengatakan, ada tiga opsi dalam penentuan harga semen di wilayah Peguteng Papua. Opsi pertama, penentuan harga menggunakan metode analisis dampak regulasi atau Regulatori Impact Assement (RIA) dengan kebijakan HET (Harga Eceran Tertinggi) yang berlaku secara nasional.

Opsi kedua, HET regional masing-masing wilayah punya harga sendiri, sedangkan yang ketiga adanya subsidi penerbangan atau angkutan dari pemerintah.

Ia memastikan hasil diskusi belum bisa memutuskan harga semen, namun ia menjelaskan jika dilihat dari proses diskusi yang memungkinkan penetapan satu harga semen ialah HET regional atau subsidi angkutan.

“Meskipun sudah ada selama ini subsidi ongkos angkut, mungkin ada mekanisme baru yang bisa diterapkan seperti ada usulan juga pemerintah bisa menyediakan pesawat untuk angkutan sendiri,” kata Rahmad menjelaskan.

Asisten I Setda Jayawijaya, Tinggal Wusono, mengaku kajian harga semen itu inisiatif dari kementerian perdagangan, sedangkan pemerintah daerah hanya memberikan masukan terkait kondisi dan persoalan kebutuhan semen di kalangan masyarakat.
“Harapan kami nanti bisa dilakukan analisis dan kajian sesuai dan tepat sesuai dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah,” kata Tinggal.

Ia mengaku apa pun yang dihasilkan dari kebijakan berpihak kepada masyarakat sehingga daya beli terhadap semen itu menjadi meningkat. Tinggal menyebutkan pentingnya kerja sama dari seluruh stakeholder untuk saling menginformasikan. “Sehingga apa yang menjadi kebijakan itu nanti tidak menjadi masalah ketika diimplementasikan,” katanya.