Petani Kopi Berdaya, Kopi Papua Jaya!

Oleh: Iyat Hamiyati

Kata ‘kopi’ selalu identik dengan Gayo, Kintamani, Toraja. Apakah pernah mendengar kopi Mulia? Kopi Moanemani? Kopi Deiyai? Sedikit orang yang pernah mendengar nama kopi-kopi tersebut. Namanya yang tidak terlalu populer menjadikannya produk kopi yang ekslusif, karena hanya sebagian pecinta kopi yang dapat menikmatinya.

Kopi yang tumbuh di wilayah adat Lapago dan Meepago Provinsi Papua merupakan kopi dengan jenis arabika, lebih tepatnya varietas tipika. Produksi kopi di Lapago dan Meepago tidak sebanyak di tempat lain yang memang sudah memiliki banyak tanaman kopi berupa perkebunan kopi.

Letaknya yang berada di pegunungan dengan ketinggian 1600-2000 mdpl menjadikan wilayah ini seperti terisolir dengan dunia luar. Pengetahuan mengenai nilai kopi sangatlah minim, terutama bagi petani kopi yang tidak dapat membaca dan menulis. Kopi yang sangat berkualitas ini akan sangat disayangkan jika tidak dikembangkan, selain itu kopi papua memiliki rasa tersendiri dibanding dengan kopi-kopi dari daerah lainnya.

Di Papua, tanaman kopi merupakan warisan dari misionaris. Setelah misionaris selesai dengan misinya dan kembali ke negara asalnya, tanaman kopi dibiarkan begitu saja bersama pohon penaung yang sama-sama tidak terawat.

Redupnya kopi papua di Indonesia salah satunya adalah kurangnya pengetahuan petani kopi dalam mengolah buah cherries menjadi kopi siap minum, perawatan tanaman, dan akses pasar.

Menjawab tantangan tersebut, Pokja Papua bekerjasama dengan SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia), BUMN dan Bank Mandiri melakukan pelatihan kopi di 5 kabupaten di Papua meliputi Kabupaten Jayawijaya, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai.

Kegiatan pelatihan berlangsung selama 4 (empat) hari di masing-masing kabupaten. Materi pelatihan berupa teori di dalam kelas dan praktek langsung di lapangan. Setiap lokasi diberikan materi yang berbeda tergatung dari kebutuhan.

Materi yang umum diberikan di setiap lokasi/wilayah adalah materi pengolahan kopi pasca panen. Awalnya, petani kopi di semua wilayah memproses kopi dengan proses full wash (proses ini lazim dilakukan sebagian besar petani kopi). Setelah pelatihan di lakukan, kami memperkenalkan beberapa teknik pemrosesan seperti natural process, honey process, dan penggunaan kulit buah cherries menjadi teh atau disebut cascara.

Pelatihan budidaya tanaman kopi pun disampaikan kepada semua petani. Budidaya kopi meliputi proses pembenihan (pemilihan bibit unggul tanaman kopi), perawatan dan pemeliharaan melalui pemangkasan dan pembuatan rorak (lubang angin).

Proses pruning/peremajaan tanaman kopi hanya dilakukan di Kabupaten Deiyai, hal ini dikarenakan tanaman kopi yang berada di wilayah tersebut sudah sangat tua dan harus dilakukan peremajaan untuk menumbuhkan tunas-tunas yang baru.

Seluruh kegiatan pelatihan diikuti dengan antusiame yang tinggi dari peserta, hal ini terlihat dari banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan kepada master trainer. Salah seorang peserta menayakan, “Mengapa rasa kopi beerbeda-beda?” Dan di jawab oleh master trainer, “Rasa kopi yang berbeda ditentukan dari bagaimana cara pegolahan pasca panen kopi, dan yang menentukan rasa kopi (enak/tidak) adalah petani kopi.”

Berdasarkan jawaban di atas, saya menyadari bahwa kenikmatan kopi yang saya minum adalah jasa dari petani kopi.

Petani kopi yang telah menerima pelatihan di 5 (lima) lokasi berjumlah ± 300 orang petani. Setelah dilakukannya pelatihan, saya berharap kopi papua akan sama dengan kopi-kopi lainnya di Indonesia, maksud sama di sini adalah sama-sama dikenal, sama-sama memiliki nilai, dan petaninya sama-sama sejahtera dan mendapatkan informasi yang sama terkait kopi.