PFN Mau Bangun Studio Masif

Nov 01, 2019

POKJA PAPUA – Perum Produksi Film Negara (PFN) akan membangun bioskop murah untuk menjangkau masyarakat sederhana di pedesaan. Masyarakat desa juga perlu nonton film di bioskop. Mereka tidak harus ke kota untuk nonton film. Tapi bisa di kampung halaman mereka sendiri.

Caranya PFN bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya yang memiliki asset di sekitar desa. Dibangun bioskop murah dengan tariff sekitar Rp 15.000-20.000. Model bioskopnya bisa berupa ruang terbuka public. Nontonnya malam Sabtu atau malam Minggu.

Film yang ditonton film produksi PFN. Sekarang PFN merencanakan memproduksi hingga 20 film sampai tahun 2023. Ada film documenter dan sejarah, film kepahlawanan dan juga inspirasi.

“Kami bersinergi membuat ruang terbuka publik, hari Jumat malam bisa nonton. Sasarannya masif tapi bukan populer,” kata Direktur Utama Perum PFN, Judith Jubilina Navarro Dipodiputro di Jakarta beberapa waktu lalu.

PFN telah menandatangani kerja sama dengan PT Jasa Marga untuk membuat bioskop murah di tempat-tempat istirahat sepanjang jalan tol (rest area) milik Jasa Marga. Selain itu juga dengan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PRNI) dan PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), PT Ideosource dan Dante Sinema. Kerja sama PFN dengan sesame BUMN tersebut adalah bagian dari Sinergi BUMN untuk Negeri.

Dengan makin banyak dan tersebarnya bioskop murah, PFN bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Direktur Komersial PFN, Elprisdat, mengatakan pihaknya akan memproduksi setidaknya 20 film hingga tahun 2023 mendatang. Agar bisa memproduksi satu film diperlukan biaya sekitar Rp 5 miliar.

Dengan demikian, diperlukan jumlah penonton hingga 350.000 agar bisa balik modal jika tiket dijual dengan harga Rp 15.000. Sekurang-kurangnya 400.000 penonton agar bisa mendapat sedikit keuntungan jika tiket dijual dengan harga Rp 20.000.

Saat ini sudah ada bioskop rakyat Indiskop atau Bioskop Independen untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Indiskop juga menjadi ruang belajar produksi film. Bioskop Rakyat bisa ditemukan di Pasar Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara. Tarif nonton di bioskop tersebut Rp 15.000, diinisiasi oleh Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Marcella Zalianty.

Tarif nonton di bioskop murah dengan bioskop komersial memang sangat berbeda jauh. Bioskop komersil mematok harga Rp 35.000-100.000. Namun, bioskop massif yang ditawarkan PFN memiliki kelebihan lain. Di antaranya adalah menampilkan jajanan rakyat menengah bawah. Misalnya, keripik singkong, ubi ungu dan makanan khas daerah lainnya.

Menurut Judith, munculnya gagasan bioskop masif juga bagian dari upaya membangkitkan kembali PFN yang puluhan tahun tidak memproduksi film. Ingat bahwa tahun 1981-1993, serial film Si Unyil tampil tiap Hari Minggu pagi di TVRI. Durasinya 30 menit. Film boneka, yang mengisahkan seorang anak sekolah dasar dan petualangannya bersama dengan teman-temannya. Bersama film Gerakan 30 September 1965 yang diproduksi tahun 1984, film yang disutradarai Arifin C Noer menjadi bagian dari kisah masa jaya PFN di masa lalu.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia