/ Budaya

Program Studi Kuliner Papua di Perguruan Tinggi

Pokja Papua – Papua memiliki pangan lokal yang sangat kaya. Banyak sekali jenis tanaman makanan lokal yang bisa ditemukan di Papua. Baik yang berupa buah-buahan maupun sayur-sayuran.

Namun, tidak banyak tanaman pangan lokal itu yang dibudidayakan. Kebanyakan yang ditemukan adalah yang tumbuh begitu saja. Kalaupun ada yang dengan sengaja ditanam, hanya di pekarangan rumah orang-orang tertentu saja. Itupun belum cukup untuk kebutuhan konsumsi sendiri.

Hasil laut Papua juga luar biasa. Bahkan sekitar perairan Papua adalah daerah yang paling banyak ikan dan udangnya. Belum lagi ikan air tawar di danau-danau yang ada. Namun, sekali lagi potensi sumber daya itu belum tergarap secara maksimal untuk mensejahterakan masyarakat Papua.

Karena itulah, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Papua Barat dan Papua untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) terkait potensi daerah itu. Papua memiliki sejumlah lokasi wisata kelas dunia. Jika saat ini yang banyak dikenal orang adalah Raja Ampat, kebutulan saja lokasi wisata itu sudah digali potensinya. Masih sangat banyak lokasi wisata tersembunyi lainnya yang belum tergarap dan belum dikenal luas.

”Kalau orang wisata itu ada berbagai keinginan. Di laut sudah jelas bagus buat yang ingin diving, tapi malam harinya harus diadakan kegiatan kalau wisata,” kata Menteri Pariwisata, Muhammad Nasir di Bali, Kamis (9/5). Menurut Muhammad Nasir, untuk dapat berinovasi dalam pariwisata, apakah di Raja Ampat ataupun lokasi pariwisata lainnya, diperlukan program studi yang dapat melahirkan lulusan yang mampu melihat potensi pariwisata di Papua.

“Program studi pariwisata menjadi sangat penting. Kalau program studi itu penting, berikut ikutannya adalah (program studi) kesenian harus kita dorong. Yang ketiga program studi kuliner. Mungkin nanti kalau bisa kita lakukan kerja sama di Bali ini,” katanya.

Potensi Sagu

Nah, soal kuliner ini, kata Menteri Muhammad Nasir, perguruan tinggi dan pemuda di Papua belum banyak yang mengembangkan dan mengemas makanan pokok khas Papua. Misalnya, sagu. Ia sendiri rutin mengkonsumsi sagu setiap hari. Hal itu karena sagu memiliki kelebihan yang tidak tidak dimiliki nasi dari beras. “Saya sekarang setiap hari konsumsi sagu. Ternyata sagu itu glutennya sangat rendah, tapi sagu yang sudah dibuat kotak-kotak yang saya masukkan air panas ke mangkuk langsung memuai,” katanya.
Muhammad-Nasir

Namun, ia berharap sagu yang dihidangkan tidak hanya seperti itu saja. Bagaimana mengolah sagu menjadi modern, sesuai selera dan kebutuhan. Makanan khas Papua dari sagu, papeda, memang sudah melegenda. Namun, papeda yang bisa ditemukan cara penyajian belum banyak variasinya.

Paling umum adalah papeda biasa disajikan bersama ikan, seperti ikan kakap merah, tengiri, ikan kue, tongkol, bubara, hingga ikan gabus yang dimasak kuah kuning. Variasi lainnya, papeda disajikan dengan sayuran tumis kakung dan bunga papaya, serta sambel mentah atau sambel goreng. Masih sangat terbatas.

Papua adalah penghasil sagu terbesar. Luas lahan sagu di Papua yang tersebar di hutan-hutan mencapat 1,2 juta hektar. Sementara lahan sagu yang semibudidaya hanya mencapai 34.000 hektar. Bahkan kalau dioptimalkan, lahan sagu di Papua mencapai 5,2 juta hektar dengan potensi hasi pati sagu 25 ton/ha/tahun.

Selain kuliner berbahan dasar sagu, masih ada potensi kuliner lain yang bisa digarap. Umbi-umbian, tales dan sebagainya. Kepala Sekolah SMA Negeri I Sentani, Agnes Mambieuw, seperti dilansir www.papuapos.com pernah mendorong siswa/siswinya untuk mengganti beras dengan pangan lokal, seperti papeda, ubi, singkong, tales, keladi dan sebagainya.

“Tapi, selama ini mungkin singkong atau yang lain itu hanya disajikan dengan direbus saja. Jadi anak-anak bosan. Padahal, ini bisa bisa disajikan dengan berbagai anekan jenis makanan,” katanya. Belum lagi sate ulat sagu yang kandungan proteinnya sangat bagus.

Pembina Pokja Papua, Noviar Andayani, mengapresiasi keinginan Menteri Muhammad Nasir untuk mengembangkan program studi kuliner dari pariwisata di perguruan tinggi di Papua tersebut. Menurutnya, membangun sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif serta sesuai dengan kebutuhan zaman sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan kesejahteran masyarakat Papua.

Potensi Papua tak ada yang bisa meragukannya. Hal yang sangat penting adalah bagaimana memanfaatkannya agar masyarakat Papua merasakan dampaknya. Karena itu, sumber daya manusia Papua sendiri yang harus diberdayakan. Masyarakat Papua harus menjadi pelaku dan yang menikmati pemanfaatan sumber dayanya.