Rasa Nyaman Membuka Peluang Sukses Mama Papua di Ajang PON XX

Pasar Mama Jayapura Aug 26, 2019

Pokja Papua melatih mama-mama Papua yang hendak berjualan di pasar

POKJA PAPUA – Tahun 2020, Propinsi Papua menjadi tuan rumah PON XX. Berdasarkan rencana, PON XX berlangsung 20 Oktober-2 November 2020 di lima wilayah. Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, Kabupaten Merauke dan Kabupaten Jayawijaya.

Selama beberapa tahun ini, pembangunan infrastruktur fisik terhadap berbagai cabang olahraga sudah hampir final. Tak banyak kendala. Stadion Papua Bangkit, salah satu stadion termegah di Indonesia berdiri kokoh di Kampung Harapan, Sentani Timur. Berikut fasilitas penunjang, sarana transportasi hingga penginapan.

PON XX Papua, sesuai dengan Surat Keputusan KONI No 72 Tahun 2018, akan mempertandingkan 47 cabang olahraga (cabor) dan 768 nomor. Kuota peserta sebanyak 7.328 orang. Ketua Harian PB PON XX Papua, Yunus Wonda, April 2019 lalu mengemukakan akomodasi dan transportasi selama pelaksanaan PON akan ditanggung oleh tuan rumah. Transportasi yang dimaksud adalah perjalanan dari Jayapura menuju enam kluster venue cabor di Jayapura, Mimika, Biak, Jayawijaya, dan Marauke.

Dengan banyaknya cabang olahraga yang dikompetisikan, membuat Propinsi Papua dikunjung puluhan ribu wisatawan selama pekan olahraga nasional itu. Tiap cabang olahraga tentu menyertakan pelatih dan asisten pelatihnya, tim teknis dan tim pendukung, pendukung dan sebagainya. Artinya ada pasar yang terbuka sangat besar bagi berbagai macam jenis usaha.

Transportasi memerlukan mobil dan sopirnya. Moda transportasi yang disediakan pemerintah daerah tentu akan terbatas untuk mengangkut ofisial, tim teknis dan tim pendukung atlet dari seluruh propinsi. Pergerakan atlet tentu akan menjadi prioritas moda transportasi yang disedikan pemerintah.Pasar-Pharaa-1 Ketua Pokja Papua, Judith J.N. Dipodiputro, saat menjelaskan rancangan Pasar Pharaa dalam sebuah maket kepada Presiden Jokowi

Semua atlet, ofisial, tim pendukung tentu akan menikmati keindahan alam Propinsi Papua, bagian dari ‘surga kecil yang turun ke bumi’. Spot wisata akan menjadi tujuan mereka. Agar menjangkau lokasi wisata itu, tentu tak ada anggaran dari pemerintah daerah untuk mengakut mereka ke sana. Artinya, butuh tour guide (lokal), yang paham tentang spot wisata.

Tak Hanya Olahraga
Di lokasi wisata, tentu bukan hanya memanjakan mata. Hal yang pasti adalah kuliner. Bila harus menginap, ya homestay, penginapan atau hotel. Pulangnya membawa ole-ole, entah kerajinan khas Papua, makanan yang bisa bertahan lama atau lain-lainnya.

Tentu saja kuliner yang disajikan harus menarik, bersih, dan sehat. Demikian juga dengan kerajinan yang dijadikan ole-ole. Menunjukkan kekhasan dan menggambarkan Papua. Perhalatan PON XX adalah ajang promosi budaya, wisata, kerajinan UMKM, kuliner dan sebagainya. Pertandingan olahraga selama PON adalah penyatu, perekat dari semua ajang itu.

Di sinilah peran dan peluang terbuka bagi Mama Papua. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mendirikan sejumlah pasar modern di Propinsi Papua. Tengok saja Pasar Mama Jayapura, Pasar Pharaa, Pasar Skouw, Pasar Hamidi dan lain-lain. Pasar-pasar itu adalah cara pemerintah untuk meningkatkan ekonomi suku-suku asli Papua dan Papua Barat agar mereka bisa menjadi pedagang yang professional, layaknya pedagang di daerah-daerah lain.

Keberadaan pasar-pasar itu, juga menjawab keinginan Mama Papua untuk memiliki pasar yang layak, tidak becek di musim hujan, tidak kepanasan di musim kemarau. Juga tidak digeruduk aparat kebersihan karena berjualan di trotoar atau emperan rumah warga lainnya.

Pokja Papua telah melatih mama-mama Papua bagaimana menjadi pedagang yang professional. Mulai dari latihan menjaga kebersihan pasar, menempatkan barang dagangan agar terlihat indah dan menarik, latihan menjadi pedagang yang ramah dan menyenangkan, memotong daging, membuka warung kopi dan sebagainya. Bahkan latihan memasak dan menggoreng pisang goreng, membuat bakso dan sebagainya.

Secara umum Mama Papua adalah penjual sayuran, ikan, buah-buahan, singkong, pinang, noken. Katakanlah, total pengungjung selama PON adalah 12.000 orang. Selama 14 hari di Propinsi Papua, berapa ton beras yang mereka habiskan, berapa ton sayuran, wortel, ikan, dan buah-buahan?

Jika 7.000 orang dari peserta itu makan bakso tiga kali dalam dua minggu itu, dikali Rp 10.000/mangkuk, sudah ada omset Rp 210 juta. Demikian juga jika 12.000 orang itu makan dua biji pisang goreng sebanyak enam kali dalam dua minggu, di kali Rp 1.000/biji, omset Rp 144 juta. Belum lagi kedai kopi dan puluhan item-item lainnya.

Ketua Pokja Papua, Judith J.N. Dipodiputro, mengatakan alasan Pasar Mama Jayapura, Pasar Pharaa dan pasar-pasar lain di Propinsi Papua dan Papua Barat memiliki kamar mandi lengkap dengan fasilitas shower, ada dapur umum, balai latihan kerja adalah untuk menyiapkan mereka menghadapi ajang-ajang besar seperti itu.

“Program Pokja Papua sesungguhnya untuk mengatasai masalah itu. Itu juga kenapa kami minta ada Rumah Anak Harapan (home schooling) di pasar? Ada Rumah Keluarga Sehat Sejahtera. Ada Balai Latihan Kerja (BLK) Pupace. Agar bisa manfaatkan peluang itu,” kata Judith.

Ia menjelaskan, sejak tahun 2014 lalu, sudah ada roadmap agar setidaknya 6.000 pekerja bisa mengisi peluang yang ada di PON XX Papua ini. Perhitungan itu adalah yang paling minimal yang dibuatnya bersama mantan atlet bulutangkis, Ivana Lie dan mantan pecatur nasional Utut Adianto Wahyuwidayat.

“Tapi, saya malah pernah ditolak hingga tiga kali,” ujarnya. Hitung-hitungan itu bisa lebih banyak jika dihitung detail hingga penjualan bubur kacang hijau, nasi goreng, mie ayam, soto dan pecel ayam. Stadion-Papua-Bangkit Stadion Papua Bangkit, tempat sejumlah cabang olahraga akan dipertandingkan pada PON XX Papua

Masih Terbuka
Dengan sisa waktu yang ada, peluang itu masih cukup terbuka. Hal terpenting adalah mace-pace mau dan ingin dilatih. Ini adalah hal pertama dan dasar yang harus dipunyai. Kemauan! Hasil dari latihan ini tentu tak hanya dimanfaatkan selama ajang PON XX Papua saja, tetapi selanjutanya tetap dan pasti akan terpakai.

Toh, orang tidak akan berhenti makan pisang goreng, tidak akan berhenti minum kopi, tidak akan berhenti makan mie ayam usai PON. Masyarakat Papua sendiri yang akan menjadi konsumennya.

Masyarakat Papua juga perlu menciptakan situasi dan kondisi yang aman dan damai. Dengan demikian, siapapun yang datang ajang penyelenggaraan PON merasa nyaman dan aman. Siapapun akan berminat dan tertarik karena kenyamanan. Sehebat dan seindah apapun, tak lebih berarti dari kenyamanan dan kedamaian. Nyaman adalah kunci dari kesuksesan penyelenggaraan PON XX itu sendiri. Dalam situasi yang nyaman, mace-pace bisa memanfaatkan peluang yang ada di ajang PON.

Pokja Papua

Mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang melibatkan perempuan dan suku-suku pedalaman Indonesia