/ Festival Biak Munara Wampasi

Selamat Datang di Festival Persaudaraan, Festival Biak Munara Wampasi

POKJA PAPUA - Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) VII di Biak Numfor, Papua Barat, akan digelar kembali pada 1-6 Juli 2019. Ini adalah festival wisata budaya dengan daya tarik utama adalah parade Wor dan Yospan.

Wor adalah upacara adat budaya Biak mengenai silkus hidup manusia. Upacara religi yang banyak berisi tarian dan nyanyian atau folklore. Budaya Biak percaya bahwa segala aspek sosial kehidupan manusia perlu dirayakan dengan melakukan upacara adat.

“Nggo Wor Baindo Na Nggo Mar. Tanpa upacara atau pesta adat, kami akan mati”.
Begitu ungkapan orang Biak. Budaya adat sangatlah penting. Dengan wor, hidup orang Biak terlindungi dari segala macam mara bahaya dan tantangan. Wor adalah ritual budaya yang mengatur jalinan realasi manusia, tidak saja dengan sesama manusia, tetapi juga dengan sanak saudara yang telah meninggal, dengan alam dan mahluk sekitar dan yang utama adalah dengan Tuhan, Sang Pencipta. Nanggi, penguasa langit dan surga dalam bahasa budaya Biak.

Jalinan relasi itu bagi budaya Biak harus dirayakan dengan penuh sukacita, riang gembira. Relasi yang baik adalah kebahagian manusia di atas bumi. Orang perlu berbangga karena ia lahir ke bumi, tumbuh dan berkembang bersama keluarga dan lingkungannya, menjadi dewasa hingga kemudian mati. Semua itu terjadi karena ada jalinan relasi yang terbangun. Tanpa jalinan relasi, semuanya menjadi nol, tiada. Karena itu, wor dirayakan dengan menari dan menyanyi, berpuisi dan bermazmur.

Relasi yang terbangun itu mesti dirangkai, ditautkan atau diikat satu dengan yang lain. Karena itu, symbol wor adalah anyaman ikat. Anyaman ikat inilah yang dikenakan oleh para peserta parade festival. Cara pengenaannya tentu bermacam-macam, sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.

Sedangkan Yospan atau Yosim Pancar adalah sebuah tarian pergaulan antara muda-mudi Biak. Tarian ini melambangkan semangat para muda-mudi Biak dalam menjalani dan menatap masa depan hidup mereka. Mereka bersatu padu dengan penuh semangat dalam mengusahakan kesejahteraan hidup mereka. Karena itu, tarian ini dibawakan dengan penuh semangat dan engerik.

Tarian Yospan sebagai tarian persahabatan adalah kombinasi dari Tarian Yosim dan Tarian Pancar.Tarian Yosim ini banyak berkembang di daerah Sarmi dan juga di teluk Serui dan Waropen. Sementara Tarian Pancar banyak berkembang di Biak Numfor dan Manokwari. Kedua tarian ini memadukan seni tari lokal dengan pengaruh tari yang dibawa oleh penjajah ke Indonesia.

Tari Yospan kemudian menggabungkan lagi tarian yang berkembang di Sarmi, Serui dan Waropen dengan tarian yang berkembang di Biak Numfor dan Manokwari. Namun, hakekat dari tarian itu adalah jalinan persahabatan. Menjaga dan merayakan kebersamaan.

Wor dan Yospan dalam Festival Biak Munara Wampasi adalah pesan pembawa perdamaian dan persaudaraan. Keduanya adalah identitas budaya Biak, Papua Barat. Itulah sebabnya FBMW menjadi salah satu rekomendasi pemerintah melalui Kementerian Pariwisata untuk terus diselenggarakan.
FBMW1

Terus Meningkat
Selain itu, tentu karena memang Biak memiliki daya tarik wisata lain yang eksotis. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Biak, Turbey Onimus Dangeubun, festival ini selalu menarik minat wisatawan dari tahun ke tahun sejak dilaksanakan. Dukungan dari pemerintah pusat, melalui Kementerian Pariwisata, katanya, dalam tiap kali ajang festival dilakukan, sudah sangat baik. Terutama dalam hal memperbaiki kemasan festival, sekalipun kontennya tidak banyak berubah.

Festival kali ini akan dibuka oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Selain menampilkan Word an Yospan, juga akan ditampilkan berbagai macam atraksi budaya asli masyarakat adat Biak. Misalnya, snapmor (cara menangkap ikan di air laut surut), apen beyeren (berjalan kaki di atas batu panas), lomba perahu adat Mansusui dan Wairon.

Sesuai dengan tema yang diangkat, yakni “Menguatkan Budaya, Membingkai Pesona”, festival juga menggali berbagai budaya suku-suku yang ada, memamerkan berbagai kerajinan, makanan dan seni kreatif, alat music dan berbagai hal yang ada di semua suku Papua Barat. Ajang festival, selain promosi pariwisata, tentu juga upaya melestarikan budaya asli masyarakat Biak.

Biak sendiri memiliki berbagai macam spot wisata yang menarik. Menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya, Biak adalah salah satu destinasi wisata bahari terbaik dengan keindahan alam bawah airnya yang memukau. Ada lokasi wisata Kali Biru yang terkenal dengan keunikan telaga air birunya yang jernih. Posisi telaga juga berada di mulut gua yang memiliki stalagtit yang terletak di Desa Anggraidi, Distrik Biak Kota.
Telaga-Biru-Biak

Telaga juga memiliki lorong di dalam air yang terhubung dengan goa lain di dalam bukit. Ia mempunyai saluran khusus di bawah laut dan terhubung dengan Pulau Myoduref. Konon, telaga yang memiliki tiga gua ini, dulu dipakai untuk persembunyian tentara Jepang. Tidak saja untuk menyimpan amunisi, tetapi juga sebagai dapur.
Masih ada juga taman burung dan anggrek Biak, yang tidak ditemukan di tempat lain. Di taman burung ini terdapat setidaknya 100 burung unik Biak. Dijamin, tidak ada tak menyesal datang ke Festival Biak Munara Wampasi.