/ Kopi

Kopi Papua, ”Hona”!

Sarie Febriane
18 Januari 2018

Kopi telah membentuk subkultur tersendiri di dunia, termasuk Indonesia. Kedai kopi terus bertumbuhan di perkotaan. Namun, kaum urban penikmat kopi mungkin tak semuanya sadar, kopi sedap sejatinya bukan berawal dari peran barista—profesi yang kini keren itu—melainkan petani. Dari tangan petani, spektrum karakter rasa kopi mulai dibentuk sehingga saat diseduh mampu menerbitkan gumaman: hmm….

Awan kelabu bergantung di langit Wamena sore itu ketika Maksimus Lani (64) mengajak tamunya, tim dari lembaga nonprofit Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) dan Pokja Papua, turun ke kebun kopinya. Semilir angin sejuk berembus lembut. Boleh coba cicip buah kopi yang sudah merah, tapi jangan buang bijinya, kasih ke saya,” kata Maksimus.

maksimus-kopi1--1-
Foto: dok. Kompas

Setelah kulit ceri kopi digigit, bagian bijinya yang berlendir yang disebut mucilage terasa manis sekali. Maksimus lalu menengadahkan tangan kanannya, meminta balik biji-biji kopi bekas kulum dari para tamunya itu.

Telapak tangannya dihiasi guratan-guratan yang dalam dan tegas selaiknya tangan petani yang telah puluhan tahun menggarap kebun. Ia menggenggam biji-biji itu baik-baik agar tak ada sebutir pun yang terjatuh.

Maksimus lalu berujar pelan. ”Tanaman kopi ini keringat kami. Dua biji atau 3 biji, tetap berharga. Tidak boleh dibuang,” ucapnya.

Ia benar-benar mencintai tanaman kopinya. Kebun kopi arabika miliknya itu tak luas, hanya sekitar 2,5 hektar di Kampung Jagara, Distrik Walesi Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Sekitar 27 km dari Wamena merupakan kawasan Lembah Baliem Pegunungan Jayawijaya yang tersohor akan keindahannya.

Kawasan kebun kopi Maksimus berada di ketinggian 1.400-1.800 dpl, ideal untuk kopi arabika. Jika dilihat dari buahnya, pohon kopi di kebun Maksimus kemungkinan dari varietas linie S 795.

Namun, bentuk daunnya mirip varietas typica. Di antara pohon-pohon kopinya terlihat pepohonan abasia (sengon) dan kaliandra sebagai naungan. Kopi dari kawasan ini menyandang nama beken kopi wamena, yang rencananya akan mendapat sertifikasi indikasi geografis (IG).

Pasokan terancam

Maksimus hanya potret dari banyak petani-kopi kecil di Indonesia. Sebanyak 95 persen produksi kopi di Indonesia—rata-rata 600.000 ton per tahun—bersumber dari petani-petani kecil. Sementara sisanya dari perkebunan besar milik negara dan sebagian kecil milik swasta. Badan Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar di Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan ada sekitar 1,88 juta keluarga petani kecil yang menggarap kopi di Indonesia.

Produktivitas kopi di Indonesia dianggap masih sangat rendah untuk standar internasional. Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementan memperkirakan produktivitas kopi hanya sekitar 700 kg per hektar. Padahal, yang ideal sedikitnya 1,5 ton per hektar. Maksimus, misalnya, dari lahan kebun 2,5 ha miliknya, ia hanya memperoleh 800 kg kopi beras (green beans).

Peneliti manajemen sumber daya alam Jeffrey Neilson dari University of Sydney di Australia dalam makalahnya ”The Value Chain for Indonesian Coffee in A Green Economy” bahkan meragukan data Ditjenbun itu. Sebab, dari penelitiannya sendiri di Sulawesi Selatan misalnya, banyak kebun kopi yang produktivitasnya lebih rendah, hingga kurang dari 200 kg per hektar.

Catatan lembaga internasional yang berbasis di Belanda, The Sustainable Trade Initiative IDH (Initiatief Duurzame Handel atau Inisiatif Dagang Hijau)— menyebutkan, Vietnam yang jumlah petaninya hanya sepertiga dari Indonesia, produktivitasnya malah 3 kali lebih tinggi.

Salah satu penyebab krusial rendahnya produktivitas kopi adalah minimnya praktik pertanian yang baik (good agriculture). Dalam lingkup itu, SCOPI mencoba meretas masalah dengan terjun ke sejumlah daerah penghasil kopi untuk melatih petani dan mengawal perkembangannya.

Untuk di Papua, SCOPI bekerja sama dengan Pokja Papua. Mereka melatih petani kopi di lima kabupaten. Selain Jayawijaya (Wamena), juga Dogiyai, Puncak Jaya (Mulia), Paniai, dan Deiyai. Dua daerah lain akan menyusul, yakni Pegunungan Bintang (Oksibil) dan Intan Jaya. Sasaran utamanya, menjadikan petani mampu meningkatkan produktivitas dan menghasilkan produk akhir green beans (kopi beras) berkualitas terbaik.


Penggalan artikel di atas telah terbit di Harian Kompas, Minggu 18 Januari 2018, hal. 1.